I’m The Only Multilingual Master a Russian Transfer Girl Student Who Can’t Speak Japanese Can Rely On Chapter 25 Bahasa Indonesia

Now you are reading I’m The Only Multilingual Master a Russian Transfer Girl Student Who Can’t Speak Japanese Can Rely On Bahasa Indonesia Chapter Ch.25 at Kuma Translator.

The Man of Time

 

“Yeaaaahhhhh aaaaahhhh!!!”

Menanggapi teriakanku, suara keras bergema melalui aula.

Cheena juga berteriak.

Aku tidak tahu apakah Aku pernah melihat wajah bahagia seperti itu darinya.

Oh ya, ini bagus.

Ini hanya gayaku.

Ini bukan tentang bermain basket, ini tentang berteriak dan mengamuk seperti orang gila.

Aku tidak peduli dengan hal lain yang tak berguna.

Untuk saat ini, Aku hanya akan menikmati diriku sendiri tanpa stres.

Aku akan bermain segila mungkin sebanyak stress yang kutahan kali ini.

“Sialan! Itu hanya kebetulan! Kita lakukan seperti biasa!!”

Sawai yang tadinya linglung, memerah dan memungut bola.

Itu konyol. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan dunk seperti yang kulakukan.

Suasana hati Sawai yang baik dari sebelumnya telah berubah, dan dia sekarang jelas kesal saat dia menggiring bola terlalu keatas.

Tapi menggiring bola seperti itu dengan frustrasi seperti meminta untuk dirampok.

Aku segera mengejarnya dan mengambil bola dalam sekejap.

“Sial!”

“Maaf itu tak sengaja! Bye-bye!”

Aku mendorongnya ke samping dan membanting bola ke dalam ring.

Kerumunan meledak dalam sorak-sorai.

“Kerja bagus, Kagami-kun! Kau hebat!”

Akimoto juga berteriak gembira.

“Hai! Ada apa dengan pria itu! Dia sangat sombong!”

“Sawai-kun! Tendang dia pergi!”

“Ioriiiiiii! Kerja yang baik!”

Sorak sorai dan sorakan regu sorak Sawai ditenggelamkan oleh kata-kata sederhana dari ‘otot’ yang mendukungku, dan itu (sorak sorai skuad Sawai) bahkan tidak mencapai telingaku.

“Hei, Kagami! Aku bilang jangan lakukan apapun sendirian! Berkonsentrasilah pada pertahananmu!”

“Shut The Fuck Up!!!”

Ishida berteriak marah padaku, tapi aku tidak peduli.

Aku memutuskan untuk mengabaikannya dan bersiap untuk pertandingan berikutnya.

Setelah itu, semuanya berantakan.

Aku mengambil bola, tak peduli teman atau lawan, dan menyerang ring tim lawan dengan gila.

Sawai dan Ishida berusaha mati-matian untuk mencetak point sendirian.

Rekan satu timku di sisi lain lapangan juga tidak yakin kepada siapa harus mengoper bola.

Di tengah semua ini, Aku memotong bola lagi dan menggiring bola ke arah ring lawan.

Aku hampir mencapai jarak tembak ketika itu terjadi.

“Sialan! Cukup!”

Sawai, yang mengejarku, meraih lengan kiriku dalam upaya putus asa untuk menghentikanku.

Itu adalah foul play yang jelas.

Tapi yah, akan sangat bodoh untuk menentang orang sepertiku.

Selain itu, seratus tahun terlalu dini untuk mencoba menghentikanku dengan cara seperti itu!

Aku memutar lenganku dan menggerakkan tubuhku dengan cepat untuk melarikan diri ke arah yang kuambil.

Itu sangat mudah, dan Aku mampu menembus penghalang bahkan sebelum wasit menyadarinya.

Aku langsung menuju bagian bawah gawang dan mencetak point dengan layup.

“Aku tidak percaya Kau tidak bisa menghentikanku bahkan dengan foul play. Kau bahkan tak bisa main basket, ya?”

“Kagami, kau… brengsek!”

Lima belas detik tersisa. Skornya 40-40.

Jika seseorang melakukannya, permainan hampir diputuskan.

Dalam situasi seperti itu, rekan setim kami adalah orang yang mengambil rebound dan memegang bola.

Namun, dia dikepung oleh tim musuh dan tidak bisa bergerak.

“Berikan padaku!”

Ishida menuntut bola.

Tapi sejujurnya, dia mencetak skor yang cukup rendah di game ini.

Aku tidak ingin menyerahkannya kepadanya ketika kami hampir menang.

Tapi sekali lagi, Aku tidak dalam posisi untuk memotong umpan ke Ishida.

Aku tidak ingin kalah.

Aku tahu ini pertaruhan, tetapi Aku ingin meninggikan suaraku di sini dan membuat bola ke arahku!

“Hei, hei, hei! Berikan padaku! Beri aku bolanya!”

Dan jawabannya adalah,

“Namaku Hosoi, Bangsad!”

Pada saat itu, sebuah bola terbang ke arahku.

Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Tapi terima kasih!

“Berhenti!”

Sawai membenturkan tubuhnya kepadaku dan mencoba memotong operan.

Tapi bola memantul kembali dan Aku cepat mendapatkan bola nya.

Dan kemudian Aku menyelesaikannya dengan dunk.

Biiiiiii!

Itu adalah sinyal untuk mengakhiri permainan.

Skoe 42-40, kami menang… Tidak, Aku menang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Permainan selesai dan Aku sedang menunggu final putri.

Aku sedang duduk di bangku, mendinginkan tubuhku yang panas.

“Aku sangat takut. Aku takut Yori tidak akan melakukan apa-apa.”

“Kau benar. Seharusnya aku melakukannya dari awal.”

Cheena menyeka keringatku saat aku menuangkan segelas minuman olahraga untuk diriku sendiri.

Ada banyak orang yang melihat kami dengan iri, tetapi mereka tidak menggangguku yang mencetak point paling banyak dalam permainan.

“Aku ‘beat the shit of him’ di depan semua penonton ini. Bahkan Sawai tidak akan bisa menyentuh Cheena sekarang, kan?”

“Ya terima kasih. Kau sangat keren dan mempesona ….”

Menatap lurus ke mataku, aku tersipu mendengar ucapan Cheena yang sederhana dan polos.

Aku yakin wajah merahku disamarkan oleh fakta bahwa aku baru saja selesai bermain.

Namun, Aku yakin dia lega.

Meskipun itu adalah permainan yang dibuat oleh Sawai sendiri, jika aku kalah, dia akan sangat ngotot untuk mengejar Cheena.

“Hei Kagami. Itu adalah pertarungan yang bagus. Kau sangat liar.”

Ketika aku menarik napas, Hosoi memanggilku.

Dia adalah rekan setim terakhir yang mengoper bola kepadaku.

“Ya. Terima kasih telah memberikannya kepadaku di akhir.”

“Seharusnya aku melakukan ini lebih cepat. Sejujurnya, permainan satu orang Ishida sangat payah.”

Hosoi kemudian menunjuk ke belakangnya dengan dagunya.

Ada Ishida yang duduk di bangku, kepalanya terkulai ke bawah.

Dia pasti mendengar suara Hosoi. Dia mendongak dan menatap kami dengan frustrasi.

“Ngomong-ngomong, tentang regu sorak itu. Aku sangat terkejut dan hampir tersandung.”

“Mereka adalah… Kerabatku.”

“Pembohong.”

Kami saling tertawa sejenak dan kemudian Hosoi pergi untuk berbicara dengan Takahara dan yang lainnya.

Seolah-olah untuk menggantikan Hosoi, banyak pria dan wanita berkumpul di sekitarku dan memujiku secara lisan.

“Bagus sekali! Sawai-senpai sepertinya dia akan menangis, kan?”

“Aku benar-benar tidak suka pria itu, dia pantas mendapatkannya. Kau sangat keren, Kagami-kun!”

Mereka memujiku karena memukul Sawai sampai habis.

Aku belum pernah menjadi pahlawan seperti ini sebelumnya.

Ini sangat memalukan.

Tampaknya ada beberapa orang yang tidak menyukai Sawai, dan mereka setuju dengan perilakuku.

Omong-omong, Aku tidak bisa menemukan Sawai, orang yang dimaksud.

Aku ingin tahu apakah dia bersembunyi di suatu tempat segera setelah dia dikalahkan.

Tapi sejujurnya, akan sulit bagi seorang pria dengan rekomendasi olahraga untuk menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Mungkin dia terlibat ddengan wanita, atau mungkin dia tidak bisa tetap tenang.

Bagaimanapun, dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan.

Seperti yang sekarang….

“Oke, sekarang giliran Cheena. Aku akan mendukungmu kali ini, jadi lakukan yang terbaik.”

“Ya. Dukung aku.”

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *