Kanojo no Imouto to Kiss wo shita Chapter 14 Bahasa Indonesia

Now you are reading Kanojo no Imouto to Kiss wo shita Bahasa Indonesia Chapter 14 at Kuma Translator.

FIRST LOVE x CATASTROPHE

[Shigure POV]
Aku suka senyumannya.

Setiap kali Aku memberikan dia bagianku yang lebih besar.

Setiap kali Aku kalah dengan sengaja untuk membuatnya menang.

Aku tidak pernah peduli dengan diriku sendiri. Kebahagiaannya adalah segalanya bagiku.

Aku ingin tetap seperti itu.

Itu sebabnya Aku ingin punya pacar. Aku ingin dia merasa nyaman jika hubunganku dengan Onii-san terungkap.

Itu adalah ide yang sangat bagus.

Aku tidak ingin merusak hubungan kita saat ini.

Hubunganku dengan kakak laki-lakiku sama pentingnya dengan hubunganku dengan kakak perempuanku.

Tidak masuk akal meninggalkan luka permanen untuk ketidakpastian singkat seperti cinta.

Tidak ada pilihan yang bisaku buat.

Aku mengasihani pacarku yang akan dimanfaatkan oleh wanita sepertiku. Aku tidak pernah merasakan cinta, Aku memilih pasangan yang mana tidak akan terasa sakit jika aku berselingkuh, dan dengan siapa Aku bisa menjaga hubungan hanya dengan kontak fisik. Namun, sejak dia memilihku. Aku akan memeras sejumlah uang yang tidak masuk akal darinya.

Dengan begitu, tidak ada yang akan dirugikan dan semuanya bahagia.

Itu adalah cara terbaik untuk memperbaikinya.

Yang terbaik yang bisa kulakukan untuk mereka.

Benar sekali.

Aku tahu.

Aku tahu itu. Aku tahu itu. Dan lagi…

Saat Aku melihat mereka berciuman di taman, semua yang ada di dalam diriku menolak pemikiran itu.

Aku menolaknya dan lari.

Aku membuang semua yang ku janjikan pada diri ku sendiri.

Setelah itu, Aku tidak yakin apa yang ku lakukan…

Aku tidak tahu bagaimana Aku sampai di sini, ke mana Aku berjalan, apakah Aku naik kereta atau bus.

Aku tidak tahu apa-apa.

Sebelum Aku menyadarinya, Aku berada tepat di depan apartemen tempat ku tinggal bersama kakak laki-lakiku, basah kuyup karena hujan.

Selama waktu itu, Aku tidak dapat melihat apa pun.

Tidak, Aku tidak ingin melihat apa pun.

Satu-satunya hal yang terlintas di benak ku adalah satu pertanyaan.

Itu semua demi kakakku, kan?

Jadi, kenapa aku tidak pergi dengan Aizawa?

Jika Aku pergi bersamanya, semuanya akan baik-baik saja.

Mengapa Aku tidak bisa…

Apa yang ku lakukan?

Aku ingin tahu apakah…

Kesadaranku menjadi keruh dan itu menyelimuti penglihatanku.

Tapi… Di tengah kegelapan Aku melihat kilatan cahaya datang dari rumah kami.

Dia pasti sudah kembali ke rumah.

Tapi. Aku tidak ingin masuk ke dalam.

Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya saat dia memberitahuku tentang ciuman itu.

Aku takut…

Sudah jam 9. Dan di luar hujan.

Aku tidak yakin harus pergi ke mana lagi.

Aku menaiki tangga baja yang rusak. Aku menyadari bahwa diriku bertelanjang kaki. Rupanya, Aku telah meninggalkan Sandal heelku yang patah di suatu tempat.

Aku tersenyum pahit mengetahui bahwa Aku tidak menyadarinya sampai sekarang.

Aku naik ke atas dan menyentuh knop pintu rumah.

Itu tidak terkunci.

Aku membuka pintu dan menemukan sepatunya di pintu masuk.

“Aku pulang…”

Tapi tidak ada jawaban.

Aku berjalan di lorong dengan kaki basah.

flop,flop,flop,flop.

Jejak kakiku dan tetesan air yang menetes dari rambutku menodai lorong saat aku menuju ke ruang tamu.

Dia ada di sana, tidur nyenyak saat dia bersandar di dinding.

Makan malam sama sekali tidak tersentuh di atas meja.

Dia pasti terlalu lelah untuk makan malam. Dia khawatir dengan kencannya dan tidak bisa tidur tadi malam.

Saat ini dia sedang tidur nyenyak, dia pasti sedang memimpikan sesuatu. Kelopak matanya tertutup rapat, pernapasannya tenang, dan mulutnya tertutup kendur.

Ada sedikit bekas lipstik merah muda di sudut bibirnya.

“Aha…”

Aku merasakan bau segar seperti mint keluar dari tubuhnya.

Pikiranku menjadi kosong, dan pertanyaan-pertanyaan yang menyiksaku begitu lama menghilang.

Hanya satu dorongan yang tersisa.

Aku melintasi koridor tanpa peduli apapun.

Saat aku mendekat, aku menjilat bibir atas dengan lidahku. Lalu aku menjilat bibir bawahku dengan cara yang sama.

Setelah membasahi secukupnya, aku menempelkan bibirku dengan lembut ke bibirnya.

“Hym…”

Aku meletakkan tanganku di pipinya saat dia menggeliat dalam tidurnya.

Aku menempelkan bibirku ke bibirnya dan menggosoknya dengan lembut.

Aku ingin mengganti jejak kakak perempuanku dengan jejakku sendiri.

Akhirnya, Aku berhenti dan melihat bekas lipstik kakak perempuanku telah hilang.

“……..”

Aku merinding pada kesenangan luar biasa yang ku rasakan saat itu.

Oh begitu.

Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. Ibuku pasti merasakan hal yang sama ketika dia menghancurkan keluarga kami.

Perasaan bahwa dunia tempatku tinggal terpecah hanya untuk satu orang ini.

Hal-hal yang ku dapatkan dalam hidupku. Hubungan yang telah ku bangun. Semuanya… Kepercayaan, persahabatan, kasih sayang, nilai-nilaiku. Semua hal ini menjadi tidak berguna dihadapan orang ini.

Begitu intens ———— Obsesi.

Aku rasa ini adalah “Cinta”.

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, Aku merasakan cinta.

Dia adalah kakak laki-lakiku, dan pacar kakak perempuanku.

Tidak ada lelucon yang lebih lucu dari itu.

Aku pikir itu gila bahwa orang ingin berada di panggung ini hanya karena keinginan singkat.

Itulah yang ku yakini.

Tapi sesaat lalu, aku tahu.

Saat aku melihat mereka berciuman di bawah jembatan.

Aku tidak dapat menerima pemandangan itu, dan Aku menghancurkan tujuanku sendiri.

Aku tahu bahwa Aku memiliki keinginan kuat untuk menghancurkan segalanya daripada menerima pemandangan itu. Dan sekarang setelah aku tahu, aku tidak bisa lagi membodohi diriku sendiri.

Aku tidak akan kembali …
Bahkan jika Aku menyerahkan kue yang lebih besar.

Bahkan jika Aku sengaja kalah dalam sebuah permainan.

Tapi…

Aku tidak akan menyerah pada cinta ini.

***

[Hiromichi POV]

Apakah Aku mencium Haruka?

Awalnya kupikir itu mimpi.

Mimpi indah, kenangan akan hari terbaik dalam hidupku.

Tapi aku merasa ada yang berbeda …

Ciuman itu begitu menggairahkan hingga membuatku pusing.

Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini.

Apakah mungkin untuk memimpikan sesuatu yang tidak Kau ketahui?

Tidak, ini adalah ——— kenyataan.

“Nhm ~~~”

Aku mendorongnya.

Dia bukan … Haruka.

Aku tidak yakin pada jarak ini, tetapi orang di depanku adalah Shigure, yang basah kuyup.

“Oh, Kamu sudah bangun… Onii-san.”
“S-Shigure? Kamu… barusan… Eh ~~~”
“Kamu menikmati kedua kalinya? Sedangkan untuk Aku, Aku tidak peduli.”

Kedua kalinya?

Apakah dia baru saja mengatakan “kedua kalinya”!

Ini bukan pertanyaan tentang berapa kali!

“Tidak-tidak, kau menciumku, bukan? Kenapa Aku?”
“Cinta adalah satu-satunya alasan untuk mencium seseorang. Aku sudah bilang. Berciuman adalah salah satu cara untuk menunjukkan kepada seseorang betapa Kamu benar-benar mencintainya.”
“Cinta? Kau membenciku. Lalu?”
“Diam.”

Setelah itu, bibirku ditutup paksa untuk kedua atau bahkan ketiga kalinya.

“Shh, Shigure, jangan main-main…”
“Aku cinta kamu.”
“Ah.”
“Aku cinta kamu.”
“Tu— tunggu.”
“Aku cinta kamu.”

Setiap kali Aku mencoba mengatakan sesuatu, dia menciumku dengan penuh passion.

Dari bibirnya yang lembut, panasnya perasaannya … cintanya masuk ke dalam diriku. Seperti racun, itu menghentikanku untuk bergerak.

Aku kewalahan oleh cintanya yang kuat.

Matanya basah oleh air mata. Aku melihat bayanganku di matanya. Sambil memelukku, dia berbisik…

“Aku mencintaimu, Onii-san. Aku cinta kamu. kamu sangat baik padaku. Aku tidak peduli jika Kamu memilih Nee~san. Kamu bisa berkencan dengannya dan memiliki masa depan yang bahagia bersamanya. Aku tidak butuh semua itu. Aku tidak ingin membuatnya sedih, dan yang lebih penting, Aku tahu betul bahwa [Pandangan Publik] seperti itu adalah hal yang bodoh. Aku hanya ingin berada di hatimu, setiap saat mulai sekarang. Jadi, Onii-san. Maukah Kamu berpacaran denganku?”

Aku mendengarnya. Tapi…

“Kali ini, Aku tidak bercanda.”

Hm… Aku mengerti.

Dia memohon sambil menciumku dengan intens seperti ini.

Bahkan orang bodoh sepertiku yang tidak memahami hati seorang gadis dapat mengatakan bahwa dia serius.

Dia meletakkan tangannya di pipiku. Dan kemudian dia menciumku lagi.

Itu adalah ciuman lembut yang tidak serakah seperti sebelumnya.

Pada saat itu… Aku bisa saja melawan. Aku bisa memaksanya pergi.

Tapi Aku tidak bisa melakukan itu.

Aku tidak bisa, karena Aku terlalu bingung. Mungkin karena aku dikuasai oleh emosinya yang luar biasa?

Aku tidak tahu.

Yang kutahu bahwa Aku diserang pada saat itu.

Aku diracuni oleh cintanya yang dalam, manis, dan penuh gairah.

… Dan bibir kami bertemu (lagi).

Sentuhannya yang lembut, panas, dan manis menutupi pikiranku.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana rasanya mencium Haruka, ciuman yang kupikir tidak akan pernah kulupakan.

Jadi pada hari Aku mencium pacar tercintaku untuk pertama kalinya.

Aku mencium adik perempuan pacarku*.
[TN: I Kissed My Girlfriend’s Little Sister]

VOLUME 1 END

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *