Kanojo no Imouto to Kiss wo shita Chapter 21 Bahasa Indonesia

Now you are reading Kanojo no Imouto to Kiss wo shita Bahasa Indonesia Chapter 21 at Kuma Translator.

RIPPLE x MIDNIGHT

 

Kami masih memiliki sekitar setengah hari tersisa untuk dinikmati.

Selanjutnya, kita akan bermalam untuk bersantai.

Untuk makan malam, kami menyiapkan barbekyu seperti yang diminta Haruka.

Kami menaruh daging dan sayuran di atas tusuk sate besi dan memanggangnya di atas kompor.

Ini masalah besar.

Aku bertanggung jawab untuk barbekyu.

Aku juga bertugas merakit tenda.

Sejak Aku masih kecil, Aku sering pergi berkemah dengan ayahku.

Itulah mengapa Aku tahu tentang hal-hal ini.

Saat kami memasak, Shigure menyarankan, “Bukankah lebih mudah memakan ini jika kita memotongnya menjadi potongan-potongan kecil dan memasaknya seperti daging panggang?”

Tapi tidak, bukan itu cara kami membuat barbekyu.

Pada akhirnya, kami semua menyantap daging asap yang telah dibumbui dengan saus, garam, dan rempah-rempah sembari mulut kami terolesi dengan minyak.

Aku bersikeras bahwa seluruh pengalaman ini adalah tentang seperti apa itu memakan barbekyu , dan kami melanjutkannya.

Barbekyu, yang dibuat dengan filosofi ayahku, menjadi terkenal untuk semua orang.

Belum lagi bahkan mahasiswi universitas yang keras kepala, Torako-senpai, memujiku yang mana sangat jarang terjadi.

Haruka memiliki senyum manis yang terpancar di wajahnya.

Yang terpenting, Shigure mengakui keterampilan memasakku dan berkata, “Ini adalah pengalaman yang baru,” yang membuatku merasa puas.

Setelah mengisi perutku dengan barbekyu, rasa lelah seharian menghantamku dengan lonjakan rasa kantuk.

Ku kira itu sama untuk semua orang.

Sejak saat itu, kami tidak banyak bergerak, hanya mengobrol, bertanya kepada Torako-senpai seperti apa universitas itu, dan menunjukkan video lucu di ponsel kami.

Tetapi secara bertahap, setiap orang mulai berbicara semakin sedikit.

Kemudian Takeshi mulai linglung, dan kami kembali ke tenda masing-masing untuk pria dan wanita yang sebelumnya sudah terpisah.

Tapi aku tidak bisa membiarkan rasa kantuk menguasai diriku.

Lagipula, Aku mempersiapkan banyak hal untuk acara yang akan datang.

Saat itu tengah malam, dan semua orang mungkin sudah tidur.

Aku menyelinap keluar dari tenda, teredam oleh dengkuran Takeshi yang seperti banteng.

Haruka sudah menungguku di luar.

“Ehehe. Hai.”
“Apakah aku membuatmu menunggu?”
“Tidak, Aku baru saja datang ke sini.”

Kemudian Haruka melihat ke langit.

“Luar biasa, bukan? Aku tidak percaya berapa banyak bintang yang ada…tapi ini indah.”
“Benar. Sekarang lampu lampu sudah mati, Aku bahkan bisa melihat Bima Sakti jauh lebih jelas dari sebelumnya.”
“Apakah itu Altair? Aku belum pernah melihat begitu banyak bintang sebelumnya.”
“Karena kita di sini, mengapa kita tidak pergi lebih dekat ke laut? Aku menemukan tempat yang bagus saat di siang hari.”
“Baik. Ayo pergi.”

Haruka memegang tanganku, terlihat penuh energi bahkan setelah bermain terlalu lama.

Tidak heran karena dia adalah anggota klub drama yang tidak berbeda dengan klub olahraga.

“…. Ngomong-ngomong, berjalan sambil berpegangan tangan seperti ini… Ini benar-benar menjadi alami. Belum lama ini, kita berdua begitu malu tentang ini dengan hati kita yang berdebar-debar seperti orang gila.”
“Yah… kita ini pasangan, kku tahu. Dan jika tidak berdebart, kita tidak akan punya hati.”

Aku menarik tangan Haruka dan pergi ke pantai terdekat.

Daerah ini untuk turis jadi dilarang untuk memancing. Di tepi juga tidak ramai. Di sini, kita bisa bersantai sambil memandangi bintang yang bercahaya di langit. Kita bisa menikmati waktu berdua saja.

Tetapi ketika kami mendekati tepi, kami mendengar seseorang berbisik.

Aku memeriksa dan melihat dua sosok duduk berdampingan di puncak tebing.

“Oh tidak. Ada seseorang di depan kita.”
“Hah? Tapi suara ini … ”

Haruka juga mendengarnya.

Tentunya suara ini sudah tidak asing lagi.

Aku menatap mereka.

Laut bersinar, menyerap cahaya bintang. Dua sosok yang memotongnya adalah Tomoe dan Torako-senpai.

Oh. Jadi keduanya memikirkan hal yang sama denganku.

Sepertinya kita terlambat.

Saat Aku merasa bingung, arah angin berubah, dan Aku bisa mendengar mereka berbicara dengan jelas.

“Torako. Terima kasih sudah datang hari ini.”
“Oh— Kalian anak-anak selalu tidur larut malam, kan?”
“Apa yang kau bicarakan ketika kau hanya dua tahun lebih tua dariku?”
“Ngomong-ngomong, aku tidak percaya Hiromichi punya pacar yang imut. Bagaimana dia bisa menemukannya? ”
“Kudengar mereka teman sekelas dari sekolah dasar, yang sepertinya dia lupakan.”
“Aku tidak bisa mempercayai telingaku ketika dia tiba-tiba memintaku untuk menjadi pengemudi. Ini adalah pertama kalinya dia memintaku melakukan sesuatu.”
“Hiro adalah tipe orang yang menciptakan rintangan yang tidak perlu ketika harus bergantung pada orang lain. Kami adalah temannya, jadi itu wajar bagi kami untuk menolongnya.”
“Jadi bahkan Hiromichi yang pendiam dan perhatian bisa menjadi kurang ajar untuk seorang gadis. Padahal dia agak impoten.”
“Itu karena dia mau bekerja keras untuk pacarnya yang imut.”

Ugh… Sungguh memalukan mendengar apa yang dikatakan orang lain tentangmu saat kau tidak di sana.

Kami tidak tahu peluru nyasar seperti apa yang akan terbang ke arah kami, jadi sebaiknya kita segera menjauh dari mereka.

Aku mencoba menarik tangan Haruka, tapi kemudian nada suara Torako tiba-tiba berubah.

“… Lucu, katamu? Katakan padaku, Tomoe, apakah kamu suka gadis feminin seperti dia?”
“Apakah kau membandingkan dirimu dengan Haruka?”
“Karena … kau tahu, Aku tidak memiliki kelucuan seperti itu, maksudk, Aku tidaklah manis …”
“… Yah, Torako jelas tidaklah imut.”
“Huh—”
“Torako yang berbicara hal-hal bodoh seperti ini tidaklah imut. Itu sebabnya, Aku harus membuatnya imut.”
“… Un.”

Segera setelah itu, bayangan kedua wajah itu bergabung dalam cahaya bintang.

Mereka berciuman.

Tomoe memegangi dagunya dan menutup bibirnya.

Aku tersentak melihat betapa mudahnya dia melakukan ini. Mengesankan…. Aku bahkan tidak dapat berpikir untuk berciuman tanpa mempersiapkan acara seperti ini.

“Sekarang, kamu menjadi sedikit lebih imut.”
“…. Belum. Karena Aku masih ragu. Aku ingin… menciummu lagi.”

Ciuman mereka berlanjut.

Awalnya, itu hanya bibir dengan bibir, tetapi kemudian mereka mulai menekan satu sama lain dengan penuh gairah.

Mereka saling membelai tubuh dan bayangan mereka melebur menjadi satu…

“…!”
“S-sepertinya mereka sibuk, jadi ayo pergi ke tempat lain.”
“Y-ya! Ayo pergi! Ayo pergi sekarang juga!”

Melihat sekilas pemandangan seperti itu membuat kami berdua malu dan lari dengan cepat.

Kami melarikan diri ke arah yang berlawanan dengan laut, di seberang jalan, ke tempat peristirahatan kecil dengan bangku-bangku yang membusuk dan mesin penjual otomatis disampingnya.

“Ah, haha… Aku masih malu, meski mereka teman kita.”
“Aku tahu…”

Apa yang bisa ku katakan, itu terlihat sangat realistis ketika Aku melihatnya dari samping. Padahal Aku tahu bagaimana pasangan biasa berinteraksi satu sama lain.

Mencium tengkuk, tangan melingkari pinggang, membelai…

Mereka adalah pasangan veteran.

Sangat kuat tidak seperti kami para pemula.

“Tapi orang dewasa itu luar biasa, bukan? Mereka berciuman dengan penuh gairah. Aku iri pada mereka…”

Apakah itu berarti Haruka ingin dicium romantis seperti itu?

Aku sedikit terkejut, tetapi bukan karena itu.

Haruka bergumam dengan suara sedikit minta maaf.

“Kita belum berciuman sejak hari itu, bukan? Aku selalu ingin menciummu Hiromichi-kun. Tapi aku terlalu takut untuk memberitahumu…”
“Takut?”
“… Belum lama ini, kita terlalu tegang untuk berpegangan tangan. Tapi sekarang itu tidak mengganggu lagi. Kamu juga tidak terlalu gugup kan Hiromichi-kun? Ciuman itu… terasa sangat mendebarkan sehingga jantungku berdebar sangat kencang hingga terasa sakit. Aku merasa sangat istimewa. Namun saat kamu sudah terbiasa dengan keseruan ini, dan perasaan sebagai kekasih mulai menghilang. Aku khawatir tentang apa yang akan terjadi jika… Hiromichi-kun bosan denganku. Itu sebabnya aku tidak bisa… memberitahumu.”

…. Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu bahwa Haruka mengkhawatirkan hal-hal seperti itu.

Dengan kata lain, Haruka tidak iri pada ciuman mereka, tetapi pada hubungan di mana mereka bisa mengandalkan satu sama lain secara terbuka tanpa harus khawatir tentang pandangan di sekitar.

… Ya Tuhan!

Aku merasakan kebencian yang kuat terhadap diriku sendiri di hatiku.

Sangat memalukan untuk membuatnya khawatir bahwa suatu hari “Aku akan bosan dengannya”.

“Maafkan Aku…”
“Kenapa kamu meminta maaf, Hiromichi-kun?”
“Karena itu salahku kau cemas karena itu.”
“Tidak, tidak. Ini karena Aku tidak percaya diri, dan Aku minta maaf karena tidak bisa… memberi tahu kamu…”

Itu benar.

Jika Aku terus menunjukkan kepada Haruka bahwa Aku dengan tulus mencintainya, Aku yakin dia tidak akan merasa begitu tidak aman.

Tapi ada satu hal yang tidak benar.

Aku ingin memperbaikinya.

Jadi Aku mengambil tangannya, yang duduk di sebelahku dan memegangnya erat-erat.

“… Tapi kamu tahu, Haruka. Hanya ada satu hal yang salah. Nah tentu saja sekarang kita bisa bergandengan tangan secara alami. Aku tak tahu apakah Aku akan bersemangat seperti dulu. Tapi … Aku tidak pernah berpikir akan merasa bosan.”

Pikiran ini tidak pernah terlintas di benakku.

“Memanggil namamu, menggenggam tanganmu seperti ini, semuanya berubah dari bersemangat menjadi… ‘kebahagiaan’ sejati bagiku. Aku menghargaimu untuk itu. Karena ku pikir itulah yang dimaksud dengan ‘connection’. Aku percaya itu adalah tanda bahwa ‘ikatan’ yang tak tergantikan sedang terbentuk di antara kita.”
“…!”
“Itulah mengapa Aku ingin mengubah ciuman kita menjadi ‘kebahagiaan’ seperti itu.”

Dan jika itu terjadi, Aku yakin kita akan memiliki ikatan yang lebih kuat daripada yang kita miliki sekarang.

Kemudian kita tidak perlu menunggu orang tua kita pulang, untuk berbicara.

Itu tentang hal-hal yang selama ini aku rahasiakan dari Haruka. Hubunganku dengan Shigure.

Dan untuk alasan itu.

“Bolehkah Aku menciummu?”
“… Iya. Aku juga ingin menciummu, Hiromichi-kun.”

Haruka sedikit malu dengan permintaanku, tapi dia menjawab dengan senyuman.

Matanya yang lembab dan berkilau tidak memantulkan bulan maupun bintang, tapi hanya sosok-ku.

Dia dengan tegas menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya seolah-olah mengundang Aku untuk bergerak.

Jantungku mulai berdebar kencang.

Aku merasakan dorongan untuk melompat ke bibirnya yang selalu ingin kurasakan.

Tapi aku merasakan dorongan yang begitu besar bersamaan dengan kegugupannya.

Aku tahu segalanya.

Aku memikirkan segalanya.

Aku menyukai semuanya.

“Jantungku berdegup kencang sampai sakit…”

Saat aku memisahkan bibirku dari bibirnya, Haruka berkata dengan mata basah dan tangannya memegangi dadanya.

Aku tahu karena Aku bisa merasakan detak jantungnya melalui bibir kami.

Tetapi ketika Aku bertanya, “Apakah itu menyakitkan?” Haruka menggelengkan kepalanya perlahan.

“Aku ingin membuat denyutan ini menjadi ‘kebahagiaan’ alami, jadi kali ini, aku akan melakukannya untukmu.”
“… Oh. Aku ingin Haruka melakukannya juga.”

Aku meminta nya, dan dia meletakkan bibirnya di bibirku.

Itu bukanlah ciuman penuh gairah seperti Shigure, jenis ciuman yang meluluhkan pikiranmu.

Tapi lebih seperti ciuman lembut, ciuman yang secara bertahap semakin dalam dan lebih lama… ciuman yang mencoba menutup celah di antara kami.

Pemalu. Takut. Tapi dia ingin lebih dekat.

Mau tak mau aku mencintai emosinya yang tersampaikan melalui perilakunya.

“Aku mencintaimu, Haruka.”
“….!”

Saat aku lebih mencium Haruka, perasaan untuk memilikinya datang kepadaku.

Lebih dalam dan lebih lama dari ciuman pertama atau yang Haruka berikan padaku.

Aku mencintaimu.

Cintaku padanya mengalir seperti ombak.

Dengan setiap nafas yang ku ambil, Aku mencoba untuk mengungkapkan cinta yang mengalir di hatiku berulang kali. Jika Aku tidak mengucapkan kata-kata itu, Aku mungkin tersedak oleh perasaanku yang meluap-luap.

Tapi, oh, tapi…

Semakin Aku mengungkapkannya dengan kata-kata, semakin menjengkelkan jadinya.

Mengapa hanya ada sedikit kata untuk mengungkapkan cintaku padamu?

Tidaklah cukup bagiku untuk mengungkapkan perasaan yang menyelimuti hatiku.

Aku ingin memberi tahumu lebih banyak. Aku ingin kau tahu lebih banyak.

Aku ingin memberi tahu gadis di pelukanku betapa aku mencintainya.

Apa yang harus ku lakukan?

Ketika Aku bertanya pada diri Aku sendiri, tubuhku secara alami memberikan jawaban.

“Hn…!”

Aku menyelipkan tanganku dari bahu kecil Haruka ke tengkuknya.

Menggosoknya, memegangya, Bolak-balik membelai nya sambil memeluknya.

Seperti yang dilakukan Tomoe sebelumnya.

Ini adalah pertama kalinya Aku mengetahui bahwa menyentuh tubuh lawan jenis bukanlah tindakan dengan motif tersembunyi.

Mau tak mau aku melakukannya untuk menyampaikan perasaan cintaku yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.

Sekarang Aku memikirkannya, mungkin itu wajar-wajar saja.

Karena manusia tidak memulai dengan bahasa yang kita miliki sekarang.

Aku kira itu adalah mekanisme yang terukir dalam darah kita.

Jadi Aku mengikuti dorongan natural dalam tubuhku.

Mencari kehangatan Haruka, aku merangkak ke seluruh tubuhnya. Di punggungnya, di pinggangnya, di dadanya … Aku menempelkan bibirku erat-erat dan menjulurkan lidahku, ingin menyentuh semuanya daro orang yang kucintai.

Belum. Itu tidak cukup. Aku ingin lebih.

Aku belum menceritakan lebih banyak padanya.

Untuk mengungkapkan perasaan yang meluap di hatiku yang tidak dapat ku sampaikan sepenuhnya dengan kata-kata.

Lebih dekat, lebih dalam…

Tapi kemudian—-

“Hya ~~~~~~, tidak !!!!”

Tepat setelah itu, Haruka mendorongku.

“Haru-ka”
“… Baru saja. Apa?”

Haruka, yang mendorongku menjauh, menatapku dengan ekspresi tidak percaya.

Aku bisa merasakan hatiku membeku melihat raut wajahnya.

“Baru saja, Lidah… lalu dada, sampai…”
“Maafkan aku. Apakah kamu membencinya?”

Tiba-tiba dan untuk pertama kalinya, penolakannya yang kuat membuatku berkeringat.

Ketika Aku melihat ke dalam matanya, Aku melihat bahwa matanya tidak berisi kasih sayang seperti sebelumnya.

Sebaliknya, sebuah emosi muncul di benak ku.

Dia…. ketakutan.

“Aku minta maaf! Aku terlalu terburu-buru! Saat berciuman aku dipenuhi dengan perasaan cinta dan aku ingin memberitahumu betapa aku mencintaimu. Saat awal, itu hanya sedikit lalu Aku tidak bisa mengendalikannya….! Karena, itulah yang barusan dilakukan Tomoe dan Senpai…. ”
“Tidak … ini bukan ‘cinta’ …”
“Hah?”

Haruka memeluk tubuhnya untuk melindungi dirinya sendiri.

“Karena sentuhan dan ciuman semacam itu, itulah yang mereka lakukan ketika mereka berhubungan seks. Torako-san sudah menjadi mahasiswa, tapi kita berdua masih SMA, jadi kita tidak seharusnya melakukan hal seperti itu, oke? Namun, kamu melakukan hal seperti itu… ”
“Tunggu! Aku tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya ingin memelukmu, dan aku bahkan tidak berpikir untuk melakukan s*x.”
“Tadi kamu bilang kamu tidak bisa mengendalikan perasaanmu, dan sekarang, bagaimana kamu bisa mengatakan … bahwa kamu tidak merasa ingin s*x setelah semua ciuman dan sentuhan itu?”

Tapi i-itu..

Ketika Haruka menatapku dengan air mata, aku kehilangan kata-kata.

Karena tidak mungkin aku bisa menjelaskannya.

“Kupikir kamu akan mengerti aku, Hiromichi-kun.”
“Haruka…”

Aku mengulurkan tanganku ke dirinya yang gemetar.

Tetapi sebelum Aku bisa meraihnya, dia berdiri dari bangku dan menghindari kontak mata.”
“Maaf. Aku akan kembali.”

Dan kemudian dia pergi seolah-olah dia takut.

Tidak, tidak seperti itu.

Haruka pergi.

Dari ku.

Dia lari dariku.

Aku sangat terpukul oleh fakta ini sampai Aku bahkan tidak dapat berbicara sampai Aku kehilangan sosoknya.

***

… Aku bertanya-tanya berapa lama waktu telah berlalu setelah itu.

Aku bersandar di bangku, tidak bisa bergerak, seperti boneka tanpa tali.

Aku melihat ke langit.

Sebelum Aku menyadarinya, lautan bintang yang ku lihat dengan sangat jelas tertutup oleh selubung hitam.

Cahaya bintang memudar, dan kegelapan malam semakin tebal dan berat.

Aku pikir itu seperti hatiku.

‘Kupikir kamu akan mengerti aku, Hiromichi-kun.’

Kata-kata perpisahan Haruka bergema di pikiranku.

Bunyi suaranya dipenuhi dengan kekecewaan, kesedihan, dan ketakutan yang pahit.

…. Apa yang telah ku lakukan?

Aku mengacau semuanya.

Tidak, Aku tidak mengacaukannya.

Aku tahu bahwa Haruka adalah gadis yang pendiam, dan Aku memaksakan keinginanku sendiri padanya.

Aku ingin terhubung dengannya. Aku berharap untuk membentuk ‘ikatan’ dengannya. Secepat mungkin.

Aku mendorong keinginanku ke Haruka dan membuatnya takut.

Betapa bodohnya aku …

Hanya karena Haruka menerima ciumanku, aku terbawa suasana dan mencarinya hanya untuk memuaskan hasratku.

… Ini menyebalkan.

Tidak ada bedanya dengan orang-orang yang melecehkannya pada siang hari.

Aku ingin berubah, tetapi Aku tidak peduli.

Aku tidak punya pilihan sejak awal… tapi…

‘Ini bukanlah cinta.’

Aku melakukan kesalahan, salah… Aku salah.

Aku mungkin terlalu tidak sabar.

Sejak insiden dengan Shigure, Aku sangat ingin mencium Haruka dan merencanakan perjalanan berkemah ini untuk melakukannya.

Rencana ini berhasil dan kami sebenarnya berciuman, tapi aku melewati batas.

Namun tidak ada keraguan dalam pikiranku bahwa kegembiraan ini karena cintaku pada Haruka.

Aku tidak seperti orang-orang sembrono di siang hari yang bahkan tidak tahu nama Haruka dan hanya menginginkan tubuhnya.

Aku tahu banyak tentang Haruka, dan aku suka semuanya, jadi aku sangat ingin … menyentuhnya, itu tidak …

Lalu…

“Hah. Apa…?”

Pemandanganku kabur.

Air mata mengalir dari sudut mataku dan membasahi pipiku.

Untuk apa air mata ini?

Kenapa aku menangis?

Mengapa Aku menakuti Haruka?

Ada beberapa hal yang tidak dapat kmu hentikan, meskipun kau menegur dirimu sendiri dengan berbagai alasan.

“~~~~~~~ !!”

Sedih. Sedih. Sedih. Sangat membuat frustasi.

Emosi egoisku meneteskan air mata.

Karena dia berkata, itu bukanlah ‘cinta’.

Tetapi, Aku sangat mencintainya sampai Aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, namun dia menyangkal segalanya, menjadi takut, dan menolakku.

Pastinya, Aku tidak menyampaikannya dengan baik.

Mungkin, ‘Perasaan yang meluap di hatiku saat itu’… apakah itu sesuatu yang perlu disangkal sampai sejauh itu…!?

Bukankah Haruka merasakan dorongan yang sama ketika dia mengatakan dia mencintaiku?

Jika…

Jika itu masalahnya …

Jika tidak,

Lalu, apakah dia benar-benar “mencintaiku” —-?

“Onii-san!”
“—-?”

Tapi kemudian,

Aku mendengar suara yang sama seperti Haruka datang dari arah dia berlari.

Langkah kaki yang menginjak bumi kian mendekat.

Di malam ketika bintang-bintang memudar, pandanganku yang berlinang air mata hanya bisa menangkap garis luarnya.

Meskipun Aku tidak dapat melihat siapa itu, Aku tahu.

“Aku tidak menyangka kamu ada di sini, Onii-san.”
“Shigure…”
“… Kamu terlihat buruk.”
“Kenapa kau di sini…?”

Kami berada di antah berantah, jauh dari perkemahan dan lautan.

“Nee-san kembali ke tenda sambil menangis, dan aku bertanya-tanya apakah sesuatu telah terjadi. Apakah kamu bertengkar dengannya?”

… Sebuah perkelahian.

Jika itu hanya perkelahian, kita berdua akan terluka. Dan itu adalah salah kami.

Aku menggelengkan kepala.

“… Itu bukan perkelahian. hanya aku yang bodoh. Aku sangat bodoh. Aku benar-benar seorang b******n yang tak bisa ditolong, terbawa suasana hanya karena Haruka mau berciuman lagi…!”
“Onii-san…”
“Bisakah kau mempercayainya? Aku membelai tubuhnya yang halus, menyentuh pinggulnya, dan bahkan mencoba memasukkan lidahku ke dalam saat kami berciuman. Tidak heran Haruka ketakutan! itu malah mirip pemerkosaan!”

Di depan Shigure, Aku berseru dan mengkritik diriku sendiri atas apa yang telah ku lakukan.

Akulah orang jahatnya.

Ini adalah kesalahanku.

Aku adalah seorang b******n

Aku adalah orang berdosa.

Ini semua salahku membuat Haruka ketakutan.

Aku membakar semua ke dalam diriku mencoba mengisi kepalaku dengan amarah pada diriku sendiri.

Karena jika Aku tidak melakukannya, “Pertanyaan Terburuk” akan muncul di kepalaku dan Aku mungkin akan mulai memahaminya.

“Aku benar-benar brengsek! Aku bahkan tidak memikirkan perasaan Haruka! Mungkin aku mencoba melakukan hal-hal buruk pada Haruka.”
“Onii-san…”
“Itu normal untuk membenci pria seperti itu! Ke b******n sepertiku”
“ONII-SAN !!”
“….?”

Saat itulah…

Shigure berteriak dan memelukku di dadanya.

“Sudah tutup mulutmu. Tolong jangan katakan apa-apa lagi.”
“Shigu… muff?”
“Sudah kubilang jangan bicara. Ayolah. Tenanglah dan tarik napas dalam-dalam.”

Bukan pelukan yang lembut tapi pelukan yang memaksa.

Ini adalah pengekangan yang menyakitkan.

Aku menarik napas, mencoba berteriak tentang apa yang dia lakukan?

Kemudian, dengan lembut, aroma yang keluar dari kulitnya menyelimutiku.

… Aroma ini.

Itu sama dengan Haruka.

Yang ku dambakan, pacar tercintaku.

“…”
Aromanya memadamkan amarah yang membara dalam diriku yang berusaha keras ku nyalakan.

Saat kebencian yang telah kubuat menghilang, begitu pula kekuatan di tubuh ku.

Lalu dia melepaskan cengkeramannya padaku.

“… Tolong jangan melukai dirimu sendiri dengan mengatakan hal hal yang tidak berguna seperti itu. Ini bukan tentang tubuhnya kamu benar-benar mencintainya, bukan? Kamu sangat mencintainya sehingga kamu tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata, dan masih ingin menyampaikannya dengan cara apa pun.”

Lalu dia membelai rambutku.

“Kenapa kau…”

Bagaimana kau tahu hal seperti itu?

Untuk pertanyaanku, Shigure memerah dan menjawab,

“Bukankah sudah jelas? Aku tahu karena… begitulah aku seperti hari itu.”
“…!”

… Ah.

Jadi dia memiliki perasaan yang kuat seperti ini ketika dia mendekatiku hari itu.

Keputusasaannya yang menakutkan. Kasih sayangnya yang membara.

Itu sangat jauh dari pemahamanku pada saat itu sehingga Aku terkejut, tetapi sekarang Aku mengerti bahwa itu sangat menyakitkan.

Aku yakin memiliki …. wajah seperti itu juga.

“Kamu tahu, Onii-san. Apa yang kucing lakukan ketika mereka ingin mengekspresikan kasih sayang mereka pada lawan jenis? Mereka dengan kuat menggigit leher pasangan mereka. Anjing menjilat wajah orang yang mereka cintai, bukan? Manusia adalah binatang, bukankah wajar untuk menyentuh seseorang saat kamu mencintainya? kamu mencintainya, itulah mengapa kamu ingin menyentuhnya. Kamu tidaklah salah.”
“Shigure…”
“Aku kasihan padamu Onii-san. kamu mengumpulkan banyak keberanian, tetapi dia tidak tahu itu, dan itu juga menyakitimu. Pasti menyakitkan saat dia menolak perasaan cintamu.”

Ketika Shigure mengatakan ini, dia dengan kuat membelai kepalaku, yang dia pegang di dadanya.

Setiap kali dia menyisir rambutku, Aku merasakan denyutan di dalam hatiku.

Air mata yang selama ini kucoba agar tidak dilihat orang lain, kesedihan yang selama ini ku hindari dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu adalah kesalahanku, mulai merembes keluar.

Dan begitu mereka mulai, Aku tidak bisa menghentikan mereka.

Tangisan keluar dari sela-sela gigiku yang terkatup.

Aku berpegangan pada Shigure, merasa seperti aku akan hancur jika aku tidak berpegangan pada sesuatu.

Kepadaku, Shigure berbisik,

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu merasa seperti ini.”
“… Eh”
“Jika kamu memelukku, aku akan dengan lembut bersandar padamu dan membalas untuk memelukmu. Jika kamu menyentuh tubuhku, Aku juga akan membelai dadamu dan menggosok pipimu yang menempel pada pipiku. Dan jika… Onii-san menginginkan ciuman yang kuat, aku akan menciummu lebih kuat dan lebih dalam dari yang kamu lakukan. Aku ingin berbisik sepanjang malam bahwa— Aku mencintaimu Hiromichi-kun. Aku sangat mencintaimu.”

Tangannya, yang telah membelai kepalaku seolah ingin menenangkanku, meluncur ke pipiku.

Dia mengangkat wajahku dengan hati-hati.

Aku melihat ke atas, dan melalui penglihatan kaburku, Aku melihat apa yang ku harapkan dari lubuk hatiku.

“Hiromichi-kun. Cium aku.”

Sebuah pandangan dimana pacarku tercinta menatapku menjebakku di matanya dan menginginkanku.

Itu ilusi.

Aku tahu itu.

Dia bukan Haruka. Dia bukan pacarku.

Tapi…

Adik di depanku terlalu mirip dengan orang yang kurindukan, dan hatiku terlalu rapuh untuk menolaknya.

“…”

Aku tidak bisa.

Hentikan.

Tidak mungkin.

Tidak, jangan …

Semua suara dalam pikiranku berteriak untuk menolaknya tapi itu terlalu jauh.

Aku mendambakan bibirnya seperti pria kedinginan yang merindukan kehangatan

Karena Aku tahu di sini hangat, dan Aku tidak bisa…. menolak.

Bibir kami bertemu.

Tidak seperti sebelumnya, bibirnya dengan kuat menyentuh milikku.

Tidak ada penolakan.

Dia membalasnya dengan ciuman lembut dan manis.

Sedikit sentuhan saja sudah cukup untuk mengirimkan panas ke dalam hatiku yang membeku.

Kasih sayangnya mengalir ke dalam hatiku. Itu adalah jenis cinta yang seharusnya tidak ku terima. Kasih sayang yang ku tolak sebelumnya karena Aku takut pada hari itu.

Aku mengambil semuanya.

Aku tidak bisa melakukan hal yang sama untuknya…

Sungguh hal yang bodoh untuk dilakukan.

Tapi…

“Itu bukan salahmu karena Aku adalah kembarannya. Aku memiliki suara, wajah, dan bau yang sama seperti kakak perempuanku. Jika seorang wanita sepertiku mendatangimu dan meminta ciuman ketika kamu terluka karena sesuatu yang kakak ku katakan kepadamu, kamu pasti akan merasa seperti ini. Onii-san, kamu tidak salah. Itu salahku karena memanfaatkan kelemahanmu, mengetahui semua perasaan menyakitkan yang telah kamu alami … jadi jangan khawatir. Sebaliknya, manfaatkan aku! Perasaan ditolak oleh Nee-san. Perasaan buruk yang memaksamu meragukan kakak ku. Perasaan untuk mencoba menyalahkan dirimu sendiri … Lupakan semua itu untuk saat ini, dan manjakan Nee-san yang kamu lihat dalam diriku.”

Dia memaafkanku karena sembrono, karena lemah.

Dia memberiku alasan untuk memaafkan diriku sendiri.

“Tidak masalah jika kamu hanya melihat Nee-san melaluiku. Semua perasaan yang kamu cari ini bukanlah perselingkuhan… Ayo, katakan. Haruka, aku cinta kamu. Haruka, aku mencintaimu. Katakan dengan lantang.”
“H-haruka. Haruka. Aku mencintaimu. Haruka. Haruka…”
“Aku juga mencintaimu.”

Aku tenggelam dalam matanya yang lembab.

Aku menyelam lebih dalam.

Aku tahu Haruka tidak sedang menciumku sekarang, tapi aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri karena menginginkannya.

Aku mencdambakan bibirnya lebih dari sebelumnya.

Aku mengeluarkan lidahku dan menyelam lebih dalam.

Shigure menerimanya dengan lidahnya sendiri.

Sungguh terasa frustasi karena tubuh kami terpisah, jadi Aku meletakkan tanganku di sekitar tubuhnya.

Aku memeluknya.

Shigure menggosok tubuhnya ke tubuhku seolah memohon lebih banyak.

“Aku mencintaimu…. nh… aku mencintaimu!”

Ciuman yang dalam.

Pelukan yang hangat.

Bisikan yang manis.

Dia memberiku semua yangku inginkan.

Bagaimana Aku bisa membiarkan dia pergi?

Aku semakin mendambakannya. Air liur yang saling kami tukarkan masku ke tenggorokanku dan terasa panas seperti air mendidih.

Panas di ususku menjalar melalui tulangku ke kedalaman otakku, mengaburkan kesadaranku seperti terkena demam.

Dalam kabut kesadaran ini, Aku merenungkan kata-katanya dari sebelumnya.

Ini bukan perselingkuhan.

Iya. Ini bukan perselingkuhan. Aku tidak berselingkuh.

Karena aku hanya mencintai Haruka.

Aku melihat Haruka di Shigure.

Aku tidak akan melakukan ini pada Shigure.

Shigure adalah adikku.

Yang aku cintai hanya Haruka.

Itu sebabnya yangku cium sekarang adalah Haruka.

Tidak ada keraguan.

Kita mencintai seperti hasrat kita, seperti permohonan kita.

Karena selama kita melakukan itu, selama bibir ini terhubung, Aku tidak perlu memikirkan pertanyaan terburuk yang terlintas di pikiranku.

***

Setelah itu, aku terus mendambakan bibir Shigure sampai hujan kecil mulai turun dari langit yang gelap.

Tapi begitu Aku selesai dan sadar, Aku dipaksa untuk menyadari kenyataan.

Seperti efek samping dari obat, Aku tersiksa oleh ras penyesalan sampai larut malam.

Dan bahkan sekarang …

Aku menatap laut sampai pagi sendirian, dengan mata kosong seperti ikan mati.

“…”

Aku telah melakukan hal yang sangat buruk.

Aku sangat kesepian sehingga Aku mendambakan bibir orang lian selain pacarku, dan dia bahkan adik perempuannya.

Itu bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh orang waras.

Aku gila

Aku tahu itu… tapi aku tidak bisa menahan diri.

Jika Aku berhenti, Aku tidak akan bisa berdiri tadi malam.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Aku jatuh tepat di sana.

Aku ditelan oleh emosi negatif yang membanjiri hatiku. Untuk mencegah hal itu terjadi, Aku tidak punya pilihan selain berpegang pada Shigure.

“Tampaknya kamu selalu menuntut kesempurnaan dari dirimu sendiri, tetapi tidak seorang pun, bahkan orang dewasa pun, yang dapat melakukannya. Kita semua mengalami malam yang sulit ketika kita tidak bisa berdiri tanpa sesuatu untuk dipegang … Untuk Onii-san, hal itu adalah malam ini. Hanya itu yang ingin ku katakan.”

Shigure mengatakan ini padaku kemarin ketika aku menarik diriku darinya setelah aku sadar.

Aku pikir dia benar.

Caraku ingin menjadi pria ideal yang ku impikan. Aku tidak cukup kuat…. untuk mewujudkannya.

“Hiromichi-kun…”
“…!”

Ketika Aku tenggelam dalam penyesalan seperti itu, Aku mendengar suara yang familiar di belakangku.

Suara seseorang yang tidak ingin ku hadapi sekarang.

Karena, karena… bagaimana caranya aku bisa berbicara dengannya?

Aku tidak tahu.

Aku tidak bisa memikirkan hal lain.

… Tapi sekarang dia ada di sini dan Aku tidak bisa mengabaikannya.

Aku berbalik.

“Haruka…”
“Um,… maafkan aku tentang kemarin.”

Reaksi Haruka tidak terduga.

Dia menundukkan kepalanya meminta maaf.

“Aku memikirkannya sepanjang malam. ‘Ini bukan cinta’, Aku melebih-lebihkan dengan mengatakan kalimat itu. Aku tahu bahwa Hiromichi-kun menyukaiku. Aku tahu itu dengan sangat baik.”
“…”
“kamu tahu, kita bersenang-senang, dan Aku menjadi sedikit bersemangat dan berlebihan. Aku benar-benar minta maaf karena mengatakan hal-hal itu tanpa mempertimbangkan perasaanmu.”

Cara Haruka meminta maaf membuat rasa bersalah mendidih di perutku.

… Tolong hentikan.

Aku telah melakukan sesuatu yang lebih buruk.

Aku tidak pantas menerima permintaan maaf seperti itu.

Aku harus memberitahumu.

Aku harus memberi tahu, apa yang Aku lakukan.

Untuk Haruka…

“…. Ah, akulah yang harus meminta maaf. Aku minta maaf karena telah membuatmu merasa takut. ”

… Hei. Bukan itu.

Bukannya aku hanya membuatnya takut, ada lebih banyak hal yang perlu dia ketahui.

Aku tahu, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Aku tidak takut padamu. Aku hanya sedikit… terkejut.”
“J-jadi begitu. Itu bagus.”

Tidak, itu tidak bagus.

Katakan. Mengapa kau tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata?

Apakah kau akan… melarikan diri tanpa mengatakan yang sebenarnya?

Setelah melakukan hal-hal itu pada kembarannya Haruka, kau hanya akan diam dan melanjutkan hubunganmu seperti sebelumnya?

Jangan konyol. Beri tahu dia. Katakan.

“… Tapi menurutku itu salah jika kita siswa SMA melakukan hal seperti itu. Jika kita terlalu bersemangat dan melakukan… kesalahan, kita akan dalam Masalah. Lagipula, aku memang mencintaimu, Hiromichi-kun. Dan Aku ingin menghargai hubungan ini denganmu. Aku tidak ingin merusak hubungan kita menjadi hubungan yang tidak bertanggung jawab dan membiarkan perasaan sementaraku menguasaiku… Jadi, jangan lakukan itu lagi, oke?”
“—-”

Mata Haruka, menatapku, bergetar dengan ’emosi’ tertentu.

Saat itulah Aku menyadari,

Aku menyadari bahwa Aku sedang berdiri di tempat yang sangat berbahaya sekarang.

Haruka tidak takut.

Dia “muak” denganku.

Dan rasa jijik itu masih ada.

Karena itulah Haruka ingin menjaga jarak.

Dia tidak ingin menciumku lagi. Mungkin dia pikir itu akan membuatnya kotor.

Jika aku memberitahunya tentang apa yang terjadi dengan Shigure … lalu,

“O-oh. kau benar, Haruka. Kita hanyalah anak-anak yang diberi makan oleh orang tua kita. Kita tidak bisa… melakukan sesuatu tanpa yang sembrono, bukan?”
“Terima kasih. Aku tahu kamu akan mengerti!”

Aku tidak mungkin… mengatakan itu.

Tapi, tetap saja… Kalau dipikir-pikir, itulah yang terbaik.

Karena menurutku tidak adil untuk mengatakan bahwa Aku berselingkuh.

Aku memang mencium Shigure.

Itu benar, tapi aku selalu memanggil nama Haruka.

Jika Haruka menanggapi ciumanku dengan benar saat itu, semua ini tidak akan terjadi sejak awal, jadi menurutku itu tidak benar.

untuk menyebut ini perselingkuhan.

Ciuman kemarin bukan hanya masalahku. Shigure juga sangat terlibat. Dia juga yang bertanya. Jika dia tidak bertanya seperti itu, Aku tidak akan menciumnya.

Mengakui hal ini bisa merusak hubungan Shigure dan Haruka. Itu tidak bagus. Itu adalah pilihan yang tidak akan membuat siapa pun senang. Lebih baik diam. Hanya karena orang lain itu adalah pacarku, bukan berarti Aku harus mengungkap semua yang telah ku lakukan.

Bahkan pasangan paling sempurna di dunia memiliki beberapa hal yang disembunyikan.

Aku tidak perlu takut menyembunyikan hal seperti itu.

Aku harus mengungkapkan cintaku untuk Haruka, yang ku ungkapkan kepada Shigure kemarin, dengan cara yang bisa dia terima. Dengan melakukan itu, kami akan menjalin ikatan. Itulah yang terbaik. Itu harus. Tanpa ragu —-

Aku harus membuat daftar alasan sebanyak mungkin yang dapat ku pikirkan tentang mengapa Aku tidak harus melakukan penebusan dosa…

Untuk memberi sedikit pembenaran atas tindakanku.

Untuk memberikan sedikit lebih banyak alasan untuk kebohonganku.

Karena… hanya itu yang bisa ku lakukan sekarang.

Tidak mungkin aku bisa memberitahunya bahwa aku mencium Shigure.

Jika Aku melakukannya, Aku akan kehilangan dia.

Pacarku tercinta, yang tersenyum dengan penuh kasih sayang, tepat di depanku.

Aku mencintainya.

Cintaku padanya bukanlah kebohongan.

Yah, sepertinya aku juga tidak punya pilihan. Aku tidak bisa… mengatakannya.

“Oii… Pasangan Idiotik. Berapa lama kalian berencana untuk berduaan? Sudah kubilang kita harus pindah sebelum jalan menjadi terlalu ramai!”
“Baik! Ayo pergi, Hiromichi-kun.”
“Y-ya”

Aku memutuskan untuk merahasiakan apa yang terjadi kemarin.

Kemudian, Berusaha untuk tidak menunjukkan ekspressi yang suram di wajahku, aku mencoba untuk meraih tangan Haruka yang diulurkan kepadaku.

Tapi-

Yang mengejutkanku, tanganku membeku sebelum bisa menyentuh tangannya.

“H…”
“Hah? Ada apa, Hiromichi-kun? ayo.”

Haruka memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu saat dia meraih tanganku.

Aku menggerakkan tanganku dengan ringan dan menanggapi gerakan Haruka dan memegangnya dengan cepat.

Aku meraih tangannya.

Pada saat itu, jantungku mulai berdebar kencang.

Bukan karena rasa senang tapi karena cemas.

Aku penasaran apakah cengkeramanku… cukup. Aku tidak yakin apakah itu membuatnya merasa tidak nyaman. Aku tidak yakin apakah itu kuat, terlalu lemah, atau mencurigakan.

Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu sudah berapa lama Aku memegang tangannya.

Saat itulah semuanya dimulai.

Berpegangan tangan. Tindakan yang dulunya menjadi sumber kebahagiaan sejati bagiku… berubah menjadi kesedihan dan ketakutan Haruka yang mana suatu hari dia akan membenciku…

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *