Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Chapter 05 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia

Now you are reading Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Bahasa Indonesia Chapter 05 at Kuma Translator.

“Aku minta maaf untuk semuanya”

Aku duduk di tempat tidur, dan berterima kasih kepada Arisa karena telah membersihkan kamar ku. aku hanya bisa menonton dan mengungkapkan rasa terima kasih ku, aku akan menghalanginya dengan kruk ini bahkan jika aku ingin membantu. aku sangat menyesal untuk itu.

Di sisi lain, Arisa tampak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Untuk saat ini, aku hanya merapikan sampah. Jadi saya akan kembali nanti untuk membersihkannya.”

“Kau tidak perlu melakukannya …”

“Aku hanya tidak suka melakukan sesuatu setengah – setengah.”

Arisa membalas ku dengan sikap tsundere. Kemudian setelah melihat-lihat di ruang ganti dia baru saja dibersihkan. Dia bertanya padaku.

“Takasegawa-san, apa yang akan kau lakukan dengan mandi? Apa kata dokter?”

“Mereka bilang jangan mandi selama dua sampai tiga hari, jadi sampai kemarin saya hanya menyeka sendiri.”

Kemarin adalah hari ketiga, jadi mulai hari ini, Aku bisa masuk ke kamar mandi (meskipun aku belum bisa berendam di bak mandi). Bahkan bagi ku, selama tiga hari, secara mental sulit untuk hanya menyeka tubuh ku, jadi hari ini aku pasti akan mandi.

“Bagaimana kau akan masuk?”

“Yah, aku tidak bisa masuk kamar mandi dengan tongkat ini, jadi aku hanya akan menggunakan satu kakiku untuk masuk.”

Aku hanya perlu duduk untuk mandi, jadi aku bisa menggunakan satu kakiku untuk mencapai kamar mandi. Sekarang semua sampah sudah dibereskan, akan jauh lebih mudah untuk bergerak.

Tapi…

“Kedengarannya sedikit berbahaya. Lantai di kamar mandi licin.”

“Kau terlalu berlebihan …… dan kakiku sudah cukup sembuh. Jika aku melakukan yang terbaik aku  bahkan bisa berjalan tanpa tongkat…”

“Jika kau bertindak ceroboh seperti itu, kau akan jatuh lagi. Aku akan membantumu.”

Membantu, yang berarti membawaku ke kamar mandi. aku sangat senang tentang perasaan itu tapi …

“Bagaimana?…Aku tidak bisa membasuh tubuhku saat memakai pakaian.”

“Aku tahu… aku sedang berpikir sedikit sekarang. Nah, apakah kau punya baju renang atau jersey?”

Pertama, aku akan memakai baju renang di bawahnya dengan jersey di atasnya. Dalam keadaan itu, aku akan duduk di kursi di kamar mandi, dengan Arisa membantuku. Setelah itu, Arisa akan keluar dan menggantung jersey tersebut di gantungan handuk. Setelah membasuh tubuhku, aku akan mengenakan jersey dan keluar dari kamar mandi dengan bantuan Arisa.

Itu adalah rencana Arisa.

“Tidak, kau tidak perlu melakukan sebanyak itu… Aku tidak bertunangan denganmu karena aku ingin kau berutang budi padaku. Aku baik – baik saja, kau tidak perlu sampai sejauh itu. …Kamu tidak suka itu, kan?”

Agak memalukan membiarkan seorang gadis membantu ku mandi, dan aku berterima kasih atas bantuannya. Tapi Arisa tidak ingin menyentuh seorang pria untuk waktu yang lama dia bahkan tidak suka.

Memang benar aku membantunya, tetapi aku tidak membantunya karena aku menginginkan sesuatu sebagai balasannya. Rasanya seperti aku membuatnya bekerja untuk ku sebagai imbalan atas rasa terima kasih, dan aku merasa tidak enak karenanya.

Namun, Arisa menggelengkan kepalanya.

“Tak apa.”

“Tapi…”

“Akan lebih menyebalkan jika Takasegawa-san jatuh lagi dan membuat cedera lagi atau membuatnya lebih buruk. aku tidak bisa mengabaikannya . Apakah kau mengerti?”

Ketika aku memikirkannya, Jika aku melihatnya dari sudut pandang Arisa. Tentu saja, setelah Arisa kembali, jika dia mendengar bahwa aku melukai diriku sendiri…dia mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak membantuku.

“Baiklah.”

Setelah itu, aku pergi ke ruang ganti untuk berganti baju renang dan jersey. Kemudian, dengan bantuan Arisa aku pergi ke kamar mandi.

“Setelah kau selesai mandi, tolong ketuk pintunya. Aku akan menunggu.”

“Oh aku mengerti.”

Aku mencuci rambut dan tubuh ku sambil duduk. Mandi untuk pertama kalinya setelah tiga hari terasa sangat nyaman…Aku berterima kasih pada Arisa dalam hati.

Setelah mencuci tubuh ku , aku menyeka tubuh saya dengan handuk mandi yang tergantung di gantungan handuk. Lalu aku memakai jersey yang sudah di siapkan tadi.

(Bahkan jika aku tidak mendapatkan bantuan dari Arisa, aku bisa keluar sendiri jika aku mau.)

Sambil berdiri dengan satu kaki, aku melihat batas antara kamar mandi dan ruang ganti. Jika aku hanya membuka pintu dan melompat dengan kuat, aku bisa melakukan nya. Ini tidak terlalu sulit.

(…Tapi, aku masih khawatir.)

Namun, lantai kamar mandi ini licin. Dan jika lompatan kugagal, tidak diragukan lagi aku akan jatuh dengan mudah.

“Yukishiro, aku sudah selesai.”

Aku memukul pintu kaca sambil berkata begitu. Kemudian, Arisa membuka pintu dengan gugup dan melangkah ke kamar mandi setelah memastikan aku mengenakan jersey dengan benar.

“Aku akan membantumu, jadi lompatlah dengan pyon!”

(TN: Di sini Arisa mengatakan pyon (ぴょん) yang berarti melompat dengan cara yang lucu.)

“Baik”

Aku melompati nya dengan seluruh kekuatan dengan satu kaki, berpikir bahwa aku seharusnya tidak membuat ekspresi lucu.

Lalu aku duduk di ruang ganti.

“Terima kasih”

“Sama-sama. Tolong panggil aku ketika kau sudah berganti pakaian. ”

“Oh baiklah.”

Setelah aku berganti pakaian, aku memanggil Arisa. Dengan bantuannya, aku bangkit dan menerima tongkat darinya.

Aku membuka pintu ruang ganti, dan pergi ke ruang tamu.

“Hmm… repot hanya untuk mandi.”

“Jangan melepas tongkat itu hanya karena merepotkan. Lakukan apa yang dokter perintahkan untuk mu  … ”

“Aku tahu”

Jika aku tidak diberitahu oleh Arisa, aku akan melepaskan tongkat ini sejak lama. Sekarang aku telah diberitahu, aku tidak bisa melakukannya.

“Ngomong-ngomong, bisakah aku melihat kulkas?”

“Tentu, tapi … tidak ada apa-apa di dalamnya.”

“Terima kasih.”

Setelah mengatakan itu, Arisa membuka kulkas. Dan menghela nafas.

“Benar-benar tidak ada apa-apa di dalamnya. …Bagaimana bisa kau makan jika tidak ada apa – apa di kulkas mu?”

“Ada cup ramen dan kari instan. Nah, jika kau bisa membelikanku bento di toko serba ada, itu akan sangat bagus. ”

“Apakah itu yang biasanya kamu lakukan?”

“Aku mencoba makan sebanyak mungkin sayuran, tapi…”

“Ahhh…”

Arisa menghela nafas dan berpikir sejenak. Dia tampak berjuang dengan sesuatu selama beberapa lusin detik atau lebih, dan kemudian dia tiba-tiba berjalan ke pintu depan.

“Aku akan pergi dan membeli sesuatu. Tolong tunggu di sini sebentar. ”

Sepertinya dia akan membelikanku bento toko serba ada. Karena aku tidak bisa banyak bergerak, aku sangat bersyukur dia akan membelikan ku bento.

“Maaf”

“Tidak masalah. Memasak akan sulit dengan kaki seperti itu… Yah, sepertinya tidak ada bedanya.”

Dia mengatakan dengan sedikit menghelan nafas.

Memang benar aku tidak bisa memasak,walaupun jika aku tidak terluka sedikitpun, jadi tidak ada gunanya berdebat.

Saat aku sedang membaca koran dan menunggu Arisa, dia membeli banyak barang. Itu bahan mentahnya, termasuk beras. Sambil berpikir, itu tidak mungkin, aku bertanya.

“Hei, Yukishiro. tidak peduli berapa kalipun kau melihatnya, mereka tidak terlihat seperti bento toko serba ada.”

“Itu wajar. Jika kau menjalani kehidupan yang tidak sehat, hal-hal yang dapat disembuhkan tidak akan dapat disembuhkan. aku akan menggunakan dapur. Harap tunggu sekitar 30 menit atau lebih. ”

Arisa secara sepihak mengatakan demikian, menggulung lengan bajunya dan mulai mencuci beras. Bahan-bahan yang sudah dibeli tidak bisa disia-siakan jadi aku hanya bisa menunggu makanan siap.

Setelah beberapa saat, aroma yang sangat harum menggelitik hidungku.

“Aku hanya bisa membuat hal-hal sederhana.”

“… hal-hal sederhana?”

Nasi putih.

Sup miso sayuran akar.

Jahe babi panggang.

Bayam rebus.

Salad.

Sup dan tiga sayuran, disiapkan dengan baik.

“Ini sederhana…?”

“Babinya baru dipanggang, bayamnya baru direbus, dan saladnya baru diparut!”

“Bukankah itu termasuk dalam …… kategori yang agak rumit?”

“Aku biasanya memasak setiap hari. Dan aku tidak pernah melewatkan makan malam empat hidangan, jadi aku berhemat pada yang satu ini. Jadi jangan khawatir tentang itu.”

Aku mulai memakan sup miso setelah mengucapkan “Itadaimasu”.

Rasa bonito dan miso menyebar di mulut saya.

“Enak …… Hal terlezat yang pernah aku makan!”

Ketika aku mengeluarkan pendapat jujur ​​ku.

Entah bagaimana, Arisa membeku dengan mata berwarna giok terbuka lebar.

“Yukishiro, kau baik-baik saja?”

“Oh tidak, aku minta maaf. Ini adalah pertama kalinya aku dipuji karena masakan ku. …… Apakah itu enak?”

“… yah, sulit untuk menjelaskannya ketika ditanya seberapa enaknya … tapi aku pikir itu jauh lebih enak daripada makanan instan yang biasa ku makan. Atau lebih tepatnya, ini terbuat dari bonito kering, kan? Ini luar biasa. …… aku minta maaf membuat mu melakukan semua ini. Terima kasih banyak”

“Apakah begitu. …… Yah, tidak menyenangkan untuk diberitahu bahwa rasanya tidak enak ketika aku yang membuatnya.

Hanya sesaat Airisa menunjukkan tanda-tanda kegelisahan. Tapi dia segera kembali ke ekspresi dinginnya yang biasa dan memegang barang bawaannya di tangannya.

“Yah, aku sudah selesai memberimu makan hari ini, jadi aku akan pulang sekarang.”

“Eh, makan…”

Sebelum aku bisa mengeluh padanya tentang kata yang mengerikan itu, Arisa berbicara kepadaku dengan suara datar dan secara singkat hanya mengatakan informasi yang diperlukan.

“Tolong simpan kain lap di dalam air. Aku akan mencucinya besok. Dan aku telah meninggalkan beberapa bayam dan sup miso. Omong-omong, aku juga telah meninggalkan beberapa Onigiri. Semuanya ada di lemari es. Silakan makan di pagi hari. Aku akan memeriksamu besok, oke?”

“Baik”

Aku tidak punya pilihan selain hanya mengangguk ketika dia mengatakan itu dengan sikap acuh tak acuh.

“Sampai jumpa besok”, kataku sambil melihat Arisa yang terlihat seperti mencoba kabur.

“Mungkin dia orang yang pemalu?”

Aku sedikit terkejut mengetahui tentang sisi tak terduga dari Arisa Yukishiro.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *