Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 07 Bahasa Indonesia

Now you are reading Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Bahasa Indonesia Chapter Vol.04 Ch.07 at Kuma Translator.

Hari Minggu setelah upacara pembukaan.

Yuzuru di stasiun, mengenakan pakaian kasualnya yang relatif nyaman.

Saat dia sibuk memeriksa arlojinya….

“Yuzuru-san.”

“Wah!”

Tiba-tiba, bahunya dicengkeram.

Yuzuru berteriak kaget dan berbalik.

Ada tunangannya dengan ekspresi “Ehehe” yang lucu di wajahnya.

“Jangan mengagetkanku. Kau membuatku takut.”

“Ini salah Yuzuru-san karena lengah.”

Arisa, seperti Yuzuru, mengenakan pakaian yang sedikit lebih dinamis.

Dia mengenakan celana jeans dengan kardigan dan kemeja di bawahnya.

Di jari manis tangan kirinya bersinar cincin lamaran yang telah Yuzuru masukkan ke dalam hatinya.

Ketika dia datang ke sekolah, dia tidak memakai cincin itu.

….Tentu saja, mengenakan cincin pertunangan yang mahal ke sekolah terdapat masalah keamanan, dan yang lebih penting, itu akan menyebabkan keributan ‘Siapa yang memberikannya padamu?’.

Sudah menjadi fakta yang terkenal bahwa Yuzuru dan Arisa adalah sepasang kekasih, tetapi fakta bahwa mereka bertunangan adalah cerita yang sama sekali berbeda.

Tidak ada yang lebih baik selain menyembunyikannya.

“Begitu…. kurasa itu salahku yang menunjukkan celah.”

Tiba-tiba, merasa sedikit nakal, Yuzuru dengan lembut mengambil tangan kiri Arisa di tangannya.

Arisa memberikan tangannya dalam gerakan alami seolah-olah dia berpikir Yuzuru hanya akan memegang tangannya seperti biasa.

… Itu ceroboh.

Yuzuru meraih tangan Arisa, lalu perlahan mengangkatnya.

Eh? Bukankah kita akan berkencan sekarang, berpegangan tangan?

Dia tersenyum ringan pada ekspresi di wajah Arisa dan……

“Ah…..”

Dengan lembut, dia menekan bibirnya ke punggung tangannya.

Tubuh Arisa sedikit menggigil.

Kulit porselen putihnya berubah sedikit merah.

Yuzuru tidak peduli dan dengan lembut menjatuhkan ciuman kedua di jari manisnya.

“M N….”

Arisa mengeluarkan jeritan kecil.

Kemudian dia kehilangan kekuatannya dan jatuh ke arah Yuzuru seolah-olah ambruk.

“Apa Kau baik-baik saja?”

“H-hal semacam ini….. Tolong berhenti melakukan ini di depan orang….”

Ketika Yuzuru memeluknya, Arisa mengeluh padanya dengan mata basah.

Meskipun Arisa memintanya untuk berhenti, bukan berarti Arisa tidak senang.

Bahkan, di matanya, sepertinya Arisa ingin Yuzuru melakukannya lagi dan lagi.

“Itu salahmu yang menunjukkan celah, kan?”

Yuzuru tersenyum jahat.

Arisa kemudian menggembungkan pipinya sedikit dan memukul dada Yuzuru.

“Astaga…. jahat.”

Arisa mengatakan ini dengan ekspresi lega, tapi agak tidak puas di wajahnya.

Mereka berdua kemudian menuju ke sebuah taman di dekat stasiun.

Taman itu cukup besar, dengan bunga sakura yang indah bermekaran.

Ya, tanggal ini adalah waktu yang tepat untuk melihat bunga sakura yang sudah lama ditunggu-tunggu keduanya.

“Lalu kemana kita harus pergi?”

“Mmmmm…. kurasa itu tempat yang bagus.”

Untungnya, ada satu tempat yang terlihat bagus.

Yuzuru membentangkan alas yang dia bawa bersamanya di tempat itu.

Dia bertanggung jawab untuk alas dan minuman.

Di sisi lain, tanggung jawab Arisa adalah…

“Aku sudah bekerja sangat keras untuk ini.”

Dia tersenyum dan mengeluarkan 3 kotak besar satu demi satu.

Arisa membuka kotak satu per satu.

Kotak-kotak itu diisi dengan lauk pauk gaya Jepang dan Barat, Onigiri kecil dan lucu, dan Sandwich yang bergaya.

“O-oh….?”

…Itu banyak.

Yuzuru menyamarkan kesan sebenarnya yang akan keluar dari mulutnya dengan mengatakan sesuatu hal yang mirip dengan kekaguman.

“Aku membuatnya terlalu banyak.”

Arisa tersenyum, “Ehehe”.

Yuzuru bingung dengan perbedaan kesan, bertanya-tanya apa bekal yang Arisa bawa itu ‘sedikit’ di mata orang normal.

“Yah … jika ada sisa, aku bisa membawanya pulang dan memakannya di rumah.”

“Aku akan senang jika Kau bisa melakukan itu…. Kau bisa memakannya untuk makan malam hari ini atau sarapan besok. kupikir itu akan bertahan selama itu.”

“Ya.”

Tampaknya dalam pikiran Arisa, Yuzuru adalah orang yang bertanggung jawab dengan “makanan”.

Namun, Yuzuru lebih dari senang bisa memakan makanan yang dimasak Arisa untuk makan malam dan sarapan.

“Aku akan memakannya kalau begitu. Itadakimasu.”

“Itadakimasu.”

Yuzuru dan Arisa menyatukan tangan mereka.

Yuzuru meraih sandwich, dimulai dengan sandwich yang mana akan cenderung rusak atau kehilangan rasanya jika dibekukan.

“Bagaimana?”

“Ini…. Lezat.”

Selada dan mentimun yang renyah, keasaman tomat yang segar, daging yang cukup asin, dan roti yang lembut.

Dan saus di atas roti menyatukan semuanya.

“…Apa Kau mengubah rasa sausnya?”

Ini bukan pertama kalinya dia makan sandwich buatan Arisa.

Tapi Yuzuru memperhatikan bahwa rasa sausnya sedikit berbeda dari sebelumnya.

“Ya. Aku mengubahnya sedikit. Bagaimana menurutmu?”

Arisa senang bahwa Yuzuru telah memperhatikan perubahan rasa sausnya.

Dia bertanya dalam suasana hati yang baik, tetapi dengan sedikit kecemasan dalam suaranya.

“Kurasa aku lebih menyukainya kali ini. Ini sedikit pedas, tapi kupikir ini merupakan sentuhan yang bagus.”

“Aku senang mendengarnya.”

Arisa tersenyum senang.

Kemudian dia beralih ke lauknya.

“Cabai udang ini enak.”

“Aku menerima saran dari Ayaka-san.”

“Hamburger ini tidak keras meskipun dingin.”

“Chiharu-san mengajariku trik untuk itu.”

Tampaknya Arisa telah meningkatkan keterampilan memasaknya sementara aku berpisah dengannya waktu itu.

Sudah lama sejak terakhir kali dia makan makanan yang dibuat olehnya, jadi sumpitnya bergerak dengan mudah.

Dan….

“Anehnya, Kau makan dengan banyak….”

“kau benar…. Perutku cukup sesak.”

Sekitar dua pertiga porsi dihabiskan saat ini.

Sisanya adalah makan malam Yuzuru untuk hari ini.

“Terima kasih untuk makanannya, Arisa. Itu lezat. Aku akan memakan sisanya di rumah.”

“Ya … Maaf untuk makanannya yang sederhana.”
(TN: Cara sopan untuk menanggapi ucapan terima kasih atas makanan dalam bahasa Jepang.)

Setelah selesai makan, mereka melihat bunga sakura sekali lagi.

Tangan mereka terhubung secara alami.

“Cantiknya.”

“Ya.”

Setelah setuju dengan gumamannya, Yuzuru menatap Arisa yang duduk di sebelahnya.

Kemudian, Arisa juga melihat ke arah Yuzuru.

Mata mereka bertemu secara alami.

Mereka berdua tidak bisa menahan tawa kecil.

“Maksudku…. aku benar-benar pria yang bahagia. Untuk bisa menikah dengan orang yang cantik dan imut yang pandai memasak seperti dirimu.”

Ketika Yuzuru mengatakan ini dengan tulus, pipi Arisa memerah.

Kemudian, menatap Yuzuru, dia dengan lembut meringkuk padanya.

“Aku juga…. senang.”

Dia berkata dan bergerak lebih dekat sampai bahu mereka bersentuhan.

Yuzuru dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Airisa dan memeluknya.

“Mm….”

Arisa tidak melawan.

Dia dengan lembut meletakkan kepalanya di bahu Yuzuru.

Rambut kuning muda yang indah menggelitik bahu Yuzuru.

Lalu dia dengan lembut mengambil tangan Arisa.

Dan berbisik di telinganya.

“Apa Kau ingin … berlatih?”

“….Ya.”

Dengan helaan nafas yang hangat.

Arisa menjawab dengan suara kecil.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *