Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 08 Bahasa Indonesia

Now you are reading Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Bahasa Indonesia Chapter Vol.04 Ch.08 at Kuma Translator.

Pertama, Yuzuru meraih tangan Arisa dan mencium punggung tangannya.

Lagi lagi, tubuh Arisa gemetar karena gugup.

“Apa Kau menyukainya?”

“Y-ya…”

Arisa sedikit menggeliat.

Jelas terlihat, bahwa Arisa lebih suka dicium di punggung tangannya.

Mungkin dia benar-benar kehilangan kekuatannya.

Arisa memberikan seluruh tubuhnya di tangan Yuzuru.

Sambil menopangnya, Yuzuru dengan lembut membelai rambutnya yang indah.

Rambutnya yang halus berkilau di bawah sinar matahari.

Itu murni, misterius, dan bahkan suci, dan itu lewat dengan mulus ketika Yuzuru membelainya.

Yuzuru mengambil segenggam rambut Arisa dan dengan lembut meletakkan hidungnya di sana.

Dan mengendusnya.

Aroma lembut sampo dan kondisioner menembus hidungnya.

“Yu-Yuzuru-san….?”

“Bagaimana dengan ini?”

Yuzuru berbisik pelan di telinganya.

Dia menempelkan bibirnya ke rambut murni Arisa.

Dengan lembut, Yuzuru mengambil rambutnya di antara bibir dan sedikit ke mulutnya.

“Ah ah…”

Napas panas keluar dari bibir Arisa yang mengilap.

Ketika Yuzuru dengan lembut meraih tangannya, Arisa meremasnya kembali dengan erat.

Arisa meraih pakaian Yuzuru dengan salah satu tangannya seolah-olah berpegangan padanya.

Yuzuru, di sisi lain, menggerakkan jarinya di rambut Arisa dan menariknya lebih dekat padanya.

Hal berikutnya yang dia tahu, Arisa membenamkan wajahnya di dada Yuzuru, dan memeluknya dari depan.

“Aku mencintaimu.”

“…Aku juga.”

Perlahan, secara alami, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah.

Yuzuru menjatuhkan bibirnya dari rambut Arisa ke telinganya.

Arisa memeluk Yuzuru dengan erat seolah-olah dia menempel padanya.

Kemudian, dia mencium pipi Arisa yang gemetar.

“Yu-Yuzuru-san….”

Dengan sedikit kemerahan di matanya, Arisa menatap Yuzuru.

Kemudian Arisa pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke wajah Yuzuru.

Bibirnya mengkilap dan lembab.

Dia menekan bibirnya dengan ringan ke pipi Yuzuru.

Mata biru dan mata hijau mereka bertatapan.

Yuzuru mendekatkan bibirnya sendiri ke bibir Arisa, dan….

“Yu-Yuzuru-san….”

Dia berhenti bergerak ketika Arisa mendorong dadanya.

Ketika Yuzuru sadar kembali, wajah Arisa menjadi merah dan dia sedikit gemetar.

“….Apa kau tidak menyukainya?”

Yuzuru bertanya, dan Arisa menggelengkan kepalanya.

“T-Tidak… Bukan itu masalahnya…. tapi…”

Arisa memalingkan wajahnya dari Yuzuru.

Dia kemudian dengan hati-hati melihat sekelilingnya.

“Um, ini…. kita di luar….”

“Eh? A-ah…..”

Yuzuru menggaruk pipinya saat mendengar itu.

Dia benar-benar lupa bahwa ini adalah tempat umum.

Ketika Yuzuru melihat sekeliling, beberapa orang memalingkan wajahnya.

Sepertinya mereka telah melihat aksi keduanya.

“Maaf soal itu.”

“T-tidak…. Bahkan aku melupakan fakta itu di tengah-tengah.”

Telinga Arisa telah berubah menjadi merah cerah.

Tampaknya aksi Yuzuru tidak tidak membuat arisa tidak senang, hanya saja fakta bahwa ini adalah taman, di luar ruangan, dan di tempat umum membuat Arisa sedikit tidak nyaman.

Setidaknya, Arisa bersedia melakukannya sampai menit terakhir.

(Ah, aku jadi tidak sabar…)

Kegagalan lain.

….Meskipun Yuzuru mencoba yang terbaik untuk memimpin Arisa dengan wajah tenang, dia juga seorang perawan dengan Arisa sebagai satu-satunya pengalaman wanitanya.

Tidak ada yang bisa dia lakukan tentang itu.

(…Haruskah Aku bertanya kepada seorang profesional di bidang ini?)

Seorang profesional.

Dengan kata lain, itu adalah Soichiro.

…Ngomong-ngomong, seberapa jauh si brengsek itu melakukannya dengan mereka?

Yuzuru sedikit penasaran dengan tingkat kemajuan seksual teman-teman masa kecilnya, tapi dia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya karena mungkin akan membuat canggung saat mereka bertemu lagi nanti.

“Yuzuru-san…. Yuzuru-san?”

“Eh? Ah…. Maaf, Arisa. Ya, apa ada yang salah?”

Ketika Arisa memanggil namanya, Yuzuru kembali sadar.

Di sisi lain, Arisa, dengan rona merah di pipinya, menarik-narik pakaian Yuzuru.

“Um, Bisakah kita pergi….?”

Rupanya, Arisa ingin pergi dari tempat ini secepat mungkin.

…Seperti yang Yuzuru pikirkan, itu sangat memalukan.

Dan tentu saja, Yuzuru setuju dengannya.

“Itu benar … Ya, ayo pergi…”

Yuzuru dan Arisa buru-buru bersiap untuk pergi.

——————————————————

(Pada akhirnya, kami tidak terlalu menikmati bunga sakuranya.)

Di jalan pulang.

Yuzuru menggerutu dalam hati saat mereka berdua berjalan berdampingan.

Namun, dia bisa menikmati makanan enak dan selain itu dia bisa bersama Arisa.

Makanan sebagai pembuka.

Dan Arisa sebagai penutup.

Di sisi lain, Arisa itu…..

“……”

Mungkin malu dengan apa yang baru saja dia lakukan, Arisa tetap diam.

Pipinya masih sedikit merah.

Namun, dia sepertinya tidak marah, dan Arisa yang malu itu menggemaskan.

Yuzuru memutuskan untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya, berpikir bahwa dia akan segera kembali normal setelah beberapa waktu.

Sekarang, saat mereka berjalan seperti itu…..

“Whoa.”

“Are.”

“Oh.”

Mereka bertemu dengan teman Yuzuru, Hijiri Ryozenji.

Dia mengendarai sepeda dengan tas belanja di keranjang.

“Oh, Kau tinggal di sekitar sini, kan?”

“Ah…. kalian berdua sedang berkencan?”

“Yah semacam itu.”

Sepertinya Hijiri sedang dalam perjalanan pulang dari berbelanja.

Di dalam tas, camilan dan permen cokelat mengintip keluar.

“Hmmm….”

Hijiri meletakkan tangannya di dagun dan sedikit berpikir.

Kemudian dia mengajukan ide ke Yuzuru dan Arisa.

“Jika Kau tidak keberatan, mengapa Kau tidak datang kerumahku? Aku setidaknya bisa meawarkan teh.”

Yuzuru ingat bahwa dia sudah lama tidak ke rumah Hijiri.

Setiap tahun, anggota keluarga Ryozenji, termasuk Hijiri, datang ke keluarga Takasegawa untuk menyapa…. tetapi Yuzuru sendiri tidak sering pergi ke tempat Hijiri.

Ini mungkin ide yang baik untuk melakukannya sesekali.

Di samping itu…..

“Bagaimana denganmu, Arisa?”

Arisa belum pernah mengunjungi keluarga Ryozenji sebelumnya.

Karena dia akan menikah dengan keluarga Takasegawa, mungkin ide yang baik untuk mengunjungi keluarga Ryozenji sekali untuk menunjukkan wajahnya.

….Tentu saja, jika Arisa ingin fokus pada kencannya dengan Yuzuru, Yuzuru tidak akan memaksa.

Akan ada banyak kesempatan untuk mengunjungi mereka di masa depan.

Sekarang, ketika Yuzuru bertanya padanya, Arisa mengangguk kecil.

“Kalau begitu, kami akan menerima tawaranmu.”

Ini adalah bagaimana mereka akan berhenti sebentar di rumah Ryozenji.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *