Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 09 Bahasa Indonesia

Now you are reading Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Bahasa Indonesia Chapter Vol.04 Ch.09 at Kuma Translator.

Di Rumah Hjiri Ryozenji…..

Kediamannya sendiri, berdiri di atas sebuah bukit kecil.

Bukit itu sendiri adalah properti pribadi milik keluarganya.

Sekeliling bukit ditutupi dengan kawat berduri, jadi satu-satunya pintu masuk hanyalah tangga batu panjang yang menuju pintu masuk utama.

Di puncak tangga, sebuah gerbang besar seperti gerbang kuil menanti.

“Wow…. apa yang harus kukatakan, ini terlihat seperti rumah Yuzuru-san.”

“Rumah ini tak sebesar rumah tunanganmu, dan ada banyak orang yang tinggal disini. Jadi, jangan berharap terlalu banyak.”

Menanggapi kesan Arisa, Hijiri menjawab dengan senyum masam.

Kesamaan antara kediaman Ryozenji dan kediaman Takasegawa bukanlah suatu kebetulan.

Karena, pria yang membangun kediaman Ryozenji, kakek buyut Hijiri, memang membangunnya agar mirip kediaman Takasegawa.

Kemudian, dengan Hijiri yang memimpin, Yuzuru dan Arisa masuk melalui pintu kecil tepat di sebelah gerbang luar….

Seorang pria berpakaian hitam, kepala botak dengan kacamata hitam sedang menunggu mereka.

Pria itu membungkuk ringan pada Hijiri.

“Selamat datang kembali. Orang-orang di belakang adalah Takasegawa-san dan…….”

Melalui kacamata hitamnya, pria itu melihat Yuzuru dan Arisa.

Arisa tampak sedikit ketakutan dan meraih lengan baju Yuzuru.

“Itu Yuzuru Takasegawa dan tunangannya, Arisa Yukishiro.”

“Begitu…. Saya minta maaf atas ketidak sopanan saya.”

Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sementara itu, Hijiri mengangguk kecil dan berbalik ke arah Yuzuru dan Arisa.

“Kalau begitu masuklah.”

“Ah.”

“Y-Ya.”

Mengikuti jejak Hijiri, Yuzuru dan Arisa juga memasuki rumahnya.

Begitu masuk, perbedaan besar antara kediaman Takasegawa dan kediaman Ryozenji menjadi jelas.

Jumlah orang yang tinggal di rumah berbeda.

Kediaman Takasegawa hanya memiliki keluarga Takasegawa dan sejumlah pelayan yang minimum.

Di sisi lain, ada banyak orang – dan mereka bukanlah orang yang ramah – bekerja di kediaman Ryozenji.

“… Ini cukup otentik, kan?”

Arisa mengeluarkan perasaan yang tak terlukiskan.

Yuzuru meraih tangan Arisa dan menggenggamnya erat.

Setelah berjalan di sekitar rumah sebentar, Hijiri membuka salah satu pintu geser.

Itu adalah ruangan bergaya Jepang yang terlihat bergengsi.

“Ini kamar tamu. Tolong anggap dirimu seperti dirumahmu sendiri.”

Saat mereka diberitahu seperti itu, Yuzuru dan Arisa memasuki ruangan dan duduk di atas bantal.

Hijiri duduk menghadap mereka.

Setelah beberapa saat, seorang pria berpakaian hitam membawakan mereka teh dan manisan Jepang.

Sementara Yuzuru mengambil cangkir teh dan meminum tehnya seperti biasa, Arisa menyesap tehnya dengan ragu-ragu.

“Sudah berapa lama sejak Yuzuru datang kesini?”

“Hmm….. sejak SD, kurasa”

Setelah dia menjadi siswa SMP, Yuzuru tidak lagi pergi ke rumah teman-temannya untuk bermain.

Karena dia lebih banyak menghabiskan waktu bermain game atau belajar di cafe atau restoran keluarga.

“Bagaimana rasanya setelah datang ke sini setelah sekian lama?”

“Sama seperti biasanya…… Yah, walaupun terdapat beberapa hal yang berubah.”

“Oh, aspek yang mana?”

“Seperti….. lebih banyak orang asing?”

“Seperti biasa, kau sangat perseptif.”

Tampaknya gelombang globalisasi sedang menyapu kediaman Ryozenji.

Dengan atmosfer yang sudah mulai menghangat Arisa angkat bicara,

“Apa hubungan antara Takasegawa-san dan Ryozenji-san? …..Aku pernah dengar bahwa ada ikatan yang kuat, tapi…..”

Tentu saja, “Takasegawa-san” dan “Ryozenji-san” di sini bukanlah Yuzuru dan Hijiri, tetapi dua keluarganya.

Adapun Arisa, yang akan menikah dengan keluarga Takasegawa, wajar jika dia penasaran dengan hubungan antara keluarga “khusus” seperti itu dan keluarga Takasegawa sebelumnya.

Sekarang, Yuzuru dan Hijiri saling memandang sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

Lalu Hijiri berkata,

“Hubungan antara keluarga kami dan keluarga Takasegawa dimulai dengan kakek buyutku….. Saat kebingungan pasca perang, kakek buyutku mengorganisir semacam kelompok vigilante. Kudengar bahwa semuanya dimulai ketika keluarga Takasegawa meminta kelompok itu untuk menjadi penjaga mereka.”

Setelah itu, hubungan berlanjut…..

Dan di situlah keadaan sekarang.

“Yah, seperti yang Kau lihat, kami adalah perusahaan yang terdiversifikasi. Kami memiliki berbagai bisnis…. Fasilitas hiburan umum tempat Arisa-san dan Yuzuru berkencan juga berafiliasi dengan perusahaan kami.”

“Ohh~…. kau ternyata punya bisnis yang cukup ‘lurus’.”

Arisa bergumam pada dirinya sendiri.

Hijiri tersenyum sebagai tanggapannya.

“…..karena kalau tidak ‘lurus’, bahayanya, nanti ketahuan.”

“….Itu benar juga.”

Ketika suasana menjadi sedikit lebih lembut, Yuzuru menyela.

“Ngomong-ngomong soal kencan, Kau dan Tenka-san juga pernah berkencan, kan?.”

“Tolong jangan menyebutnya kencan.”

Hijiri mengerutkan kening.

Tampaknya dia tidak terlalu senang diberitahu ini dan itu tentang hubungannya dengan Tenka.

Tapi itu sifat manusia untuk penasaran ketika seseorang bertindak seperti itu.

“Jika seorang anak laki-laki dan perempuan berkumpul bersama, menurutku itu biasanya disebut kencan… Jika bukan kencan, lalu apa itu?”

“….Itu adalah survei.”

“….Survei? Untuk?”

Yuzuru memiringkan kepalanya.

Lalu Haijri menarik Yuzuru mendekat dan berbisik pelan di telinganya.

“Jangan beri tahu siapa pun, oke?”

“Apa itu?”

“Seharusnya ada di sana… Yang itu.”

“…..yang itu?”

“Hal yang Arisa-san benci.”

“Ah….”

Dengan kata lain, itu adalah hantu.

Dan kemudian Yuzuru terkejut.

“Eh, benarkah?”

“Siapa tahu? Aku tidak melihatnya. Dan Aku tidak percaya akan hal itu. Seharusnya tidak ada hal seperti hantu ketika kakekku hidup dengan bebas. ”

“Tentu.”

“Hanya saja…. Tenka sangat mirip atau mungkin memang seorang cenayang, jadi aku memintanya untuk melihatnya…. Dan begitulah adanya.”

Yuzuru mengangguk, “Aku mengerti”.

Keluarga Tenka Nagiri adalah organisasi keagamaan yang cukup terkenal.

Ketika mereka mengatakan bahwa dia memiliki indra keenam yang kuat, itu cukup masuk akal.

Selain itu, ada gadis spiritual lainnya, Chiharu Uenishi.

Namun, sementara keluarga Uenishi bersifat sekuler, dia adalah orang yang religius.

Tenka, yang mana adalah seorang praktisi agama yang serius, akan lebih dapat diandalkan dalam hal-hal seperti itu.

“Eh, ada apa? Apa yang Kau bicarakan?”

Di sisi lain, Arisa, yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan, memiringkan kepalanya.

Yuzuru dan Hijiri saling berpandangan.

“Tidak, tidak apa-apa.”

“Ini bukan masalah besar.”

Jika Arisa mendengar bahwa tempat itu berhantu, dia tidak akan pernah pergi ke sana lagi untuk berkencan dengan Yuzuru.

Dan menyangkut Hijiri, kehilangan pelanggan bukanlah hal yang baik.

Karena itu, mereka memutuskan untuk merahasiakan masalah ini.

Arisa penasaran, tapi untungnya, dia tidak bersikeras bertanya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *