Sekaiichi Kawaii Ore no Osananajimi ga, Kyou mo Kawaii Chapter 05 Bahasa Indonesia

Now you are reading Chapter 05 at Kuma Translator.

Permintaan teman masa kecil ku

 

 

Rin dan aku berjalan pulang bersama. aku dapat merasakan ada sesuatu yang salah saat kami mendekati stasiun terdekat dari sekolah. Karena Rin jauh lebih dekat denganku daripada biasanya. Pagi ini jaraknya sekitar 30cm, sekarang sekitar 15 cm. 

 

“…” 

 

Tssk … 

 

Akan lebih baik jika aku membuat jarak di antara kita. Dan Rin segera menyadarinya dan menutup celahnya. 

 

“Katakan Rin …” 

 

“Ya, polisi akan mengejarmu!”

 

“Begitukah, segitunya aku salah? Ngomong-ngomong, bukankah kau agak terlalu dekat denganku sekarang?” 

 

Perlahan, Rin mulai menjauhkan tubuhnya dariku. Dia pasti mencoba berpura-pura tidak tahu. 

 

“Apa maksudmu?”

 

“Jangan pura-pura bodoh, kau tahu persis apa yang ku maksud!” 

 

aku dengan hati-hati mengamatinya dan memperhatikan dia berkedip berkali-kali dan bagaimana dia mengerucutkan bibirnya. Persis seperti inilah dia saat dia berbohong. 

 

“Itu hanya imajinasimu, kau terlalu banyak berpikir. Aku tidak percaya kau menggunakan otakmu yang tidak berguna itu untuk memikirkan omong kosong yang tidak berarti. Lakukan sesuatu yang akan membuatku tertawa.” 

 

“Sebaliknya, fakta bahwa kau  sangat peduli tentang ini menunjukkan bahwa itu tidak ada artinya!” 

 

Itu tanggapan yang bagus, jika aku sendiri yang mengatakannya. Padahal, aku yakin orang di pihak penerima tidak terlalu menyukainya, sebenarnya mereka mungkin sedang marah. Terkadang Rin bertingkah seperti kucing. Tindakan dan kata-katanya terkadang membingungkan. aku tidak sepenuhnya yakin apa alasannya. Apa yang ku tahu adalah bahwa dia menjadi marah dan sementara aku mungkin tidak tahu mengapa, aku  harus menerimanya. Itulah cara orang dewasa menangani sesuatu.

 

Penjelasan atas tindakan Rin, ya … 

 

Yah, ini musim dingin dan tidak ada orang yang bisa aku peluk, tapi aku punya teman masa kecilku … Aku bisa bergaul dengannya. 

 

Bukankah aku hanya membuat kebohongan? Yah, tidak apa-apa, mereka hanya delusi. 

 

“kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang menjijikkan sekarang. Otakmu mungkin dipenuhi dengan sirup busuk sekarang.” 

 

“aku  sedang memikirkan hal-hal penting sekarang, itu bisa memengaruhi hidup ku seperti yang kita ketahui.” 

 

Kami tiba di stasiun, naik kereta dan turun dari stasiun terdekat dari rumah kami. Kami masih berjalan berdampingan. Sebagai hukuman atas pikiran jahat ku, kami kembali berjalan dengan jarak 30 cm. Agak sepi. 

 

Tetap saja, Rin sepertinya sudah sedikit berubah. Melihat percakapan kami, biasanya hanya aku yang mengatakan beberapa pembicaraan acak dan Rin memotongnya setiap saat. Bisa dibilang sedingin angin pedesaan. Tapi akhir-akhir ini, dia merasa seperti kehilangan itu. Untuk satu alasan , aku tidak bisa menghilangkan perbedaan itu dari pikiran ku. Biasanya dia akan pulang bersama Hashimoto-san dan teman-temannya yang lain, tapi hari ini, dia memutuskan untuk menungguku selesai menulis untuk pulang bersama. 

 

Tidak peduli bagaimana kau memikirkannya, dia pasti mencoba mempersempit jarak di antara kami. aku kira normal kami telah menjadi dekat karena suatu alasan. Ini jelas bukan sesuatu yang muncul begitu saja, pasti ada alasannya, tapi aku punya perasaan bahwa aku tahu, tapi aku secara sadar memendamnya. aku pikir firasat ku tepat … 

 

“Ngomong-ngomong…” 

 

aku  mendengar Rin. aneh sekali dia berbicara duluan.

 

“Tohru-kun, apakah kau membeli roti  untuk makan siang?” 

 

“Uhh, Yah. karena Murah dan lumayan bagus untuk menjanggal perut. Cukup untuk ku sendiri.” 

 

“Katakan … jika kau diberi makan siang gratis, kau ingin memakannya?” 

 

“Yah, tentu saja, Siapa yang tidak mau?” 

 

… 

 

…… 

 

“Umm, Rin?” 

 

“…Bento.” 

 

Suaranya menjadi bisikan pelan, hampir tak terdengar. 

 

“Apakah kau ingin bento?” 

 

Sebelum aku menyadarinya, tatapan lembut Rin bertemu denganku. Wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa, tapi dia berkedip lebih banyak dari biasanya, bibirnya bergetar dan pipinya merah. Matanya terlihat sangat jernih dan murni, seperti salju yang tertiup angin. Apakah dia merasa cemas sekarang? 

 

“Apakah kau mengatakan sesuatu Rin?” 

 

“Jangan salah paham. Lagipula aku selalu membuat bento untuk diriku sendiri, aku hanya membantu teman masa kecilku yang kesepian, tidak lebih. Aku pada dasarnya seperti dewimu pada saat ini dan kau harus menghujaniku dengan memuji.” 

 

“Jadi inilah dewi ku, yah …” 

 

“Diam! Tidak semua dewi akan membawamu ke isekai.”

 

“Kalau begitu, apakah kau punya buku catatan hitam?” 

 

“aku memiliki buku catatan yang diisi dengan coretan dan nyanyian yang tidak bisa dimengerti seperti Inferno Phoenix dan Crimson Moon Angelica.” 

 

“Berhentilah menggali sejarah kelamku! Bagaimana kau tahu itu ada !?” 

 

Buku catatan itu adalah rahasia terdalam ku, dan rahasia ku yang paling memalukan. 

 

“Jadi bagaimana pendapatmu?” 

 

Rin beralih kembali ke pertanyaan tentang bento. aku menjawab tanpa ragu-ragu.

 

“aku ingin makan bento mu!” 

 

Aku menyatakan itu dengan sekuat tenaga. Untuk satu alasan , aku berharap semangat ku bertemu dengan pandangan menghakimi dari Rin. Tapi itu tidak terjadi. 

 

“Baiklah kalau begitu.” 

 

Dia membalas dengan suara yang lebih lemah dari biasanya. Matanya tertunduk dan sudut mulutnya sedikit terangkat. Dia sangat mudah dibaca, dia pasti senang dengan pergantian peristiwa. Dia imut sekali … 

 

Thump Thump 

 

Secara bertahap, aku mulai merasakan panas di tangan ku dan aku bisa merasakan tekstur kulit. Tanpa pikir panjang, aku menemukan bahwa aku secara refleks meletakkan tangan ku di pipi Rin. 

 

“Hah …” 

 

Rin memberiku erangan yang tidak seperti biasanya. 

 

“M-maaf, kesalahanku.” 

 

aku segera melepas tangan ku. 

 

“Kenapa kau tiba-tiba menyentuhku? Aneh sekali, kau bertingkah seperti penjahat.” 

 

Rin meletakkan tangannya di tempat aku menyentuhnya dan menghampiriku secepat kereta peluru. Tapi ekspresi wajahnya tidak terlihat sesal yang dia ungkapkan. Itu mungkin pemikiran yang menyedihkan di pihak ku… 

 

“Maaf.” 

 

“Ya ampun, kalau bukan aku, kau pasti sudah di tangkap saat ini.” 

 

“Haha, maafkan aku tentang itu.” 

 

“… Tidak apa-apa.” 

 

Rin memelototiku sambil memberikan tanggapan berbisik. Cibiran kekanak-kanakannya juga sangat lucu. 

 

“kau seperti ini saat kecil.” 

 

Tiba-tiba, kenangan itu kembali membanjiri ku. aku ingat dengan jelas ruang kelas yang remang-remang. Bau debu dan kapur menusuk hidungku. Bayangan jelas dari air mata mengalir di wajahnya, saat aku menghiburnya, meletus dalam pikiranku. 

 

“Itu sudah lama sekali …” 

 

Aku berbisik pelan saat meletakkan tanganku di depan dadaku. 

 

“Ngomong-ngomong, aku akan membuat bento dan memberikannya padamu besok pagi.” 

 

“Ya, terima kasih banyak, aku akan menantikannya.” 

 

Kata-kataku yang tulus menyebabkan sudut mulut Rin terangkat kembali. 

 

__________________

 

Sejujurnya, aku sangat bahagia saat itu. Aku benar-benar tidak bisa memikirkannya. Tetapi alasan sebenarnya Rin memutuskan untuk membuatkan ku bento, aku baru menyadari mengapa tidak lama kemudian.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *