Archive for Omiai Shitakunakattanode

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 13 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 13 Bahasa Indonesia

Hari pertama Golden Week. Hari dimana Yuzuru mengunjungi keluarga Amagi. “Sudah lama. Amagi-san.” Yuzuru membungkuk ringan pada Amagi Naoki, yang menyambutnya di depan pintu. Alasan mengapa Yuzuru mengunjungi keluarga Amagi adalah untuk menjemput Arisa dan menyapa Naoki. Bahkan jika Arisa adalah tunangannya, sangat normal untuk meminta izin kepada Naoki untuk menjemput putrinya yang berharga, Arisa. “Ah, lama tidak bertemu. Yuzuru-kun.” Naoki berkata dengan suara acuh tak acuh tapi terdengar formal. Di sebelahnya berdiri Arisa, yang memberi Yuzuru hormatan kecil. “Karena Kau sudah di sini … Silakan masuk.” “Yah, aku akan menerima kata-katamu untuk itu. Maaf mengganggu.” Yuzuru melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah. Ini adalah pertama kalinya dia ke rumah Arisa sejak Arisa terkena demam. “Yuzuru-san…. lewat sini.” “Terima kasih.” Arisa membawanya ke ruang tamu. Yuzuru duduk di sofa. “Ah…. iya. Ini, tolong ambil ini. Ini dari ayahku.” Sebenarnya, Yuzuru memberi Naoki manisan yang dia beli dengan uang yang ditransfer dari ayahnya. Naoki menerimanya dengan ekspresi kosong, sama seperti biasanya. “Terima kasih, Yuzuru-kun.” Dia berkata dengan suara dingin. Pada saat yang sama, ibu angkat Arisa, Amagi Emi, datang ke ruang tamu. Dia memiliki nampan dengan teh diatasnya untuk mereka bertiga. “… Sudah lama.” “… Ya, sudah lama. Arisa-san selalu membantuku.” Emi membuat komentar ramah, lalu meletakkan teh di atas meja. “Terima kasih banyak.” “Tidak, tidak… Kalau begitu, tolong nikmati waktumu.” Kemudian dia membungkuk ringan dan meninggalkan ruangan. Setelah Yuzuru melihatnya pergi, dia menyesap tehnya. Ternyata teh ini dibuat dari daun teh yang cukup berkualitas. Pertama, dia mengobrol ringan dengan Arisa…. Kemudian Yuzuru mulai masuk dalam bisnis. “Naoki-san. Terima kasih telah mengizinkanku untuk secara resmi bertunangan dengan Arisa-san.” Kemudian Yuzuru menundukkan kepalanya pada Naoki. Alasan dia ada di sini hari ini juga untuk meminta restu Naoki setelah mereka meresmikan pertunangan mereka. Namun…. Jika Naoki tidak memberinya izin, dia akan membawa Arisa pergi dengan paksa, jadi ini hanya sebagai formalitas. ”….Jika Arisa ingin menikahi Yuzuru-kun, maka aku tidak punya alasan untuk menentangnya. Tolong jaga Arisa….” Naoki menjawab dengan nada suaranya yang biasa. Tapi tatapan Yuzuru melihatnya mulutnya sedikit mengendur walau hanya sekilas. Dan kemudian terdengar suara ketukan yang kuat. Klik! Pintu terbuka dengan cepat. Orang yang muncul adalah seorang gadis yang tampak berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Gadis itu tersenyum ramah dan kemudian membungkuk dengan sopan. “Senang bertemu dengan Anda, Saya Amagi Mei…. Saya selalu dibantu oleh Takasegawa-senpai – Ayumi-san.” Amagi Mei. Dia adalah sepupu Arisa dan siswa…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 12 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 12 Bahasa Indonesia

Akhir bulan April. Pada hari Minggu, Yuzuru dan Arisa sedang bermain game bersama. “Aku menang lagi.” “Mum….” Dan seperti biasa, Yuzuru kalah di dalam game. Yuzuru tidak pandai dalam game bergenre ‘Fighting’, sementara Arisa memiliki bakat untuk itu. Meskipun Yuzuru memiliki lebih banyak waktu bermain game…. Sekali seminggu. Setiap kali mereka bermain melawan satu sama lain, Skill Arisa meningkat, dan hari ini Yuzuru nyaris tidak dapat satupun kemenangan. (…Yah, dia sepertinya bersenang-senang, jadi tak masalah.) Melihat senyum bahagia di wajah Arisa, Yuzuru mau tak mau mengangkat sudut mulutnya. Untungnya, Yuzuru dapat dengan jujur ​​menikmati game hanya sebagai permainan, bahkan jika dia kalah. Selain itu, jika tunangannya menikmatinya, sama sekali tidak ada keluhan. Pertama, ‘Fighting’ bukan satu-satunya genre game yang ada. Yuzuru cukup pandai dalam game ‘Simulation Strategy’, dan dia telah mengalahkan Arisa berkali-kali. Selain itu, dalam permainan seperti permainan ‘co-op/Multiplayer’, bermain dengan tunanganku…. sedikit menjadi beban, tetapi tetap menyenangkan untuk dimainkan bersama. “Hmmm… ada yang salah?” Dan kemudian, saat Yuzuru menatap wajah Arisa….. Arisa memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu. Rambut kuning mudanya yang indah bergoyang sedikit, dan mata hijau gioknya menatapnya. Yuzuru terpesona dengan kecantikannya seperti biasa. “Nah … hanya berpikir bahwa Kau semanis biasanya.” “Terima kasih banyak.” “…. Kau tidak akan menyangkalnya?” “Apa Aku harus menyangkalnya?” Kemudian Arisa menutup jarak antara keduanya. Dan mendekatkan wajahnya padanya… dan tanpa sadar Yuzuru membuang muka. “T-tidak… Itu benar.” “Senang mendengarnya.” Arisa tersenyum padanya. Sudah sekitar satu tahun sejak dia mengenal Arisa, dan Yuzuru kagum pada seberapa banyak orang bisa berubah. “….Jadi, apa yang sebenarnya Kau pikirkan?” “Tidak, aku hanya merasa sedikit tidak enak membuatmu bermain game sepanjang waktu.” Memang benar dia pikir Arisa itu manis, tapi itu bukan satu-satunya yang Yuuru pikirkan. Yuzuru sedikit khawatir tentang fakta bahwa meskipun mereka bertunangan, dia tidak bisa mengajaknya berkencan sejak melihat kencan bunga sakura. Tentu saja, Yuzuru ingin membawanya ke taman hiburan, bioskop, atau tempat lain yang membuatnya merasa seperti seorang kekasih. Namun…. “Aku sedang bersenang-senang, jadi jangan khawatir tentang itu….. Kau juga sedang kekurangan uang, kan?” Ya, Yuzuru kehabisan uang. Alasannya sudah jelas. Dia telah menghabiskan semua uangnya pada Natal dan White Day. Selain itu, tidak mungkin menambah jam kerja jika tidak perlu, mengingat ada waktu yang harus dihabiskan bersama Arisa. Jika dia ingin berkencan dengan Arisa, dia harus menghabiskan lebih sedikit waktu dengannya. “Yah, itu memang masalahnya, tapi …” Namun, sedikit memalukan bagi Yuzuru sebagai seorang pria karena perhatian tunangannya terfokus pada…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 11 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 11 Bahasa Indonesia

Karena akan merepotkan keluarga Ryozenji jika menetap terlalu lama, Yuzuru dan Arisa memutuskan untuk segera pergi. Hijiri menggaruk kepalanya saat dia berjalan menuruni tangga batu. “Yah, aku minta maaf tentang itu … kupikir kakekku sedang pergi.” Dia benar-benar ingin mengajak Yuzuru dan Arisa berkeliling rumah, mentraktir mereka minum teh, dan mengantar mereka dalam perjalanan pulang. Namun kemunculan Ryozenji Kiyoshi sama sekali tidak terduga. “Kurasa dia terlalu bersemangat karena seorang gadis muda yang datang…. Maaf, Arisa-san.” Hijiri berkata dan meminta maaf kepada Arisa. Sementara itu, Arisa tertawa pelan. “Tidak, tidak apa-apa….. Apa yang bisa kukatakan? Beberapa hal memang diluar kendali.” Arisa tidak tahu maksud dari percakapan terakhir antara Yuzuru dan Kiyoshi. Namun, jelas ada semacam tujuan tak terucapkan yang dimasukkan ke dalamnya. “Yah, Dan Arisa. Kau tidak perlu memandang rendah dirimu sendiri … kupikir jawaban Arisa cukup lumayan. mengingat itu adalah hal mendadak, yang kau lakukan itu lebih dari skor sempurna. ” Yuzuru menyemangati Arisa dengan berkata demikian. Di sisi lain, Arisa memiringkan kepalanya dengan cemas, “Begitukah?. “Ha~h…. Aku tidak ingin terlibat dalam salah satu pertarungan konyol itu…. Terutama jika itu menyangkut teman-temanku.” Hijiri berkata dan menganggukkan kepalanya pada dirinya sendiri. Yuzuru memberikan senyum kecil sebagai tanggapan. “Aku setuju denganmu. kuharap Kau dan Aku bisa menjadi teman ‘normal’.” Tetapi pada titik ini, tidak jelas apakah Hijiri akan menjadi penerus keluarga atau tidak. Itulah sebabnya Kiyoshi menggunakan istilah “cucu”. Lebih mudah bagi Yuzuru untuk berurusan dengan paman atau sepupu Hijiri. …dia tidak perlu khawatir tentang apa pun, tak peduli baik atau buruk. Dan sementara itu terjadi, mereka menuruni bukit. “Sampai di sini sudah cukup.” “Terima kasih banyak untuk hari ini.” “Baiklah, sampai jumpa.” Mereka berdua berpisah dengan Hijiri. Matahari sudah terbenam, dan langit diwarnai dengan warna senja. “….Um, Yuzuru-san.” “Ada apa?” “Kau bilang jawabanku benar…. Sebenarnya bagian mana yang benar?” Yaah. Artinya ada jawaban yang salah juga. Itu wajar bagi Arisa untuk mengetahuinya.. “Hmm, yah…. Sebenarnya, ‘aku akan datang menyapamu lain kali’ adalah sebuah kata dengan maksud untuk mengukur karakter Arisa. Aku cukup yakin tidak ada jawaban yang benar-benar salah atau semacamnya… Apa Kau memperhatikan bahwa lelaki tua di Ryozenji itu terlalu rendah diri?” “Ya ….Apa yang harus kukatakan, aku sedikit bingung.” Tidak setiap hari di Jepang modern Kau bisa menemukan pria yang lebih tua bersikap rendah diri kepadamu. Normal untuk Arisa merasa bingung. “Jawaban yang benar adalah…. Kau tidak mengatakan bahwa Kau akan pergi untuk menyapanya.” “Apa itu karena … Takasegawa…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 10 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 10 Bahasa Indonesia

Disaat mengobrol ringan sembari meminum teh Pengunjung lain membuka pintu geser dan masuk ke ruangan. “Sudah lama. Yuzuru-dono.” Dia adalah seorang pria tua kecil dengan janggut putih di dagunya. Dia mengenakan kimono dan menggunakan tongkat untuk membantu dirinya beridiri. Hanya saja matanya memiliki tatapan yang sangat tajam. Kiyoshi Ryozenji Dia adalah presiden saat ini dari sebuah organisasi bernama Ryozenji. “Ryozenji-san, sudah lama sekali.” Dia menggelengkan kepalanya saat Yuzuru mencoba berdiri, merasa tidak enak karena membuat lelaki tua dengan kaki yang buruk itu berdiri karenanya. “Tidak, tidak apa-apa. Tolong tetap duduk. ” Dia duduk di atas bantal dengan bunyi *Buk, dengan bantuan Hijiri, yang bergegas ke sisi Kiyoshi. Dia kemudian mengalihkan tatapannya ke Arisa. Arisa menegakkan punggungnya. “Senang bertemu dengan Anda. Saya Arisa Yukishiro, teman sekelas Hijiri-kun. Terima kasih telah menerima Saya di sini hari ini.” “Hmmm…. Arisa Yukishiro. Begitu, Kau adalah tunangan Yuzuru-dono.” “Ah iya. Itu benar…. Saya tunangan Yuzuru-san.” Pipi Arisa sedikit memerah saat dia mengatakan ini, terlihat malu. Melihat gerakan Arisa, Kiyoshi tersenyum kecil. “Hahaha, dia wanita muda yang cantik, Yuzuru-dono.” “Ya. Dia terlalu baik untukku.” Sambil mengatakan itu Yuzuru meremas tangan Arisa. Di sisi lain, Arisa mengangkat suaranya dalam kebingungan, dan berkata, “H-hei …”. Mata Kiyoshi terlihat bahagia saat melihat tingkah keduanya. “Bagus, bagus….. Tidak, tapi aku iri pada si lelaki tua Takasegawa. Aku selalu berharap cucu-cucuku dapat segera memiliki satu atau dua pacar untuk membuatku merasa tenang.” “Memiliki dua akan menjadi masalah kan …” Kata-kata Kiyoshi disambut dengan cibiran tenang dari Hijiri. Kiyoshi mengabaikan cucunya dan mengalihkan pandangannya ke Arisa sekali lagi. “Mempertimbangkan masa depan Nyonya Takasegawa, seharusnya aku yang akan menyapanya lain kali…. Mungkin untuk Tahun Baru, aku akan datang menyapamu.” “T-tidak, itu …” Arisa, di sisi lain, tampak sedikit bingung. Dia jauh lebih tua dari Arisa. Meskipun itu wajar, untuk kepala keluarga dan organisasi Ryozenji memiliki sikap hormat terhadapnya. Dalam hal peringkat keluarga, Arisa mungkin lebih unggul, tetapi seorang senior di depannya tidak akan pernah berada dibawah Arisa. (…Bagaimana Aku bisa menjawab ini dengan benar?) Secara umum, Arisa adalah “peringkat bawah” dari keduanya, jadi Arisa harus menjadi orang yang hormat padanya. Tapi….. Apa pandangan umum berlaku di sini? (Aku…. tunangan Yuzuru-san, dan um…. Takasegawa berada di posisi yang lebih tinggi dari Ryozenji, dan bahkan jika aku berada di posisi yang lebih rendah, mungkin mempertimbangkan posisi Yuzuru-san….) Dalam sekejap mata, kekhawatiran dan kecemasan seperti itu melintas di benaknya. Tapi dia tidak bisa hanya duduk di…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 09 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 09 Bahasa Indonesia

Di Rumah Hjiri Ryozenji….. Kediamannya sendiri, berdiri di atas sebuah bukit kecil. Bukit itu sendiri adalah properti pribadi milik keluarganya. Sekeliling bukit ditutupi dengan kawat berduri, jadi satu-satunya pintu masuk hanyalah tangga batu panjang yang menuju pintu masuk utama. Di puncak tangga, sebuah gerbang besar seperti gerbang kuil menanti. “Wow…. apa yang harus kukatakan, ini terlihat seperti rumah Yuzuru-san.” “Rumah ini tak sebesar rumah tunanganmu, dan ada banyak orang yang tinggal disini. Jadi, jangan berharap terlalu banyak.” Menanggapi kesan Arisa, Hijiri menjawab dengan senyum masam. Kesamaan antara kediaman Ryozenji dan kediaman Takasegawa bukanlah suatu kebetulan. Karena, pria yang membangun kediaman Ryozenji, kakek buyut Hijiri, memang membangunnya agar mirip kediaman Takasegawa. Kemudian, dengan Hijiri yang memimpin, Yuzuru dan Arisa masuk melalui pintu kecil tepat di sebelah gerbang luar…. Seorang pria berpakaian hitam, kepala botak dengan kacamata hitam sedang menunggu mereka. Pria itu membungkuk ringan pada Hijiri. “Selamat datang kembali. Orang-orang di belakang adalah Takasegawa-san dan…….” Melalui kacamata hitamnya, pria itu melihat Yuzuru dan Arisa. Arisa tampak sedikit ketakutan dan meraih lengan baju Yuzuru. “Itu Yuzuru Takasegawa dan tunangannya, Arisa Yukishiro.” “Begitu…. Saya minta maaf atas ketidak sopanan saya.” Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sementara itu, Hijiri mengangguk kecil dan berbalik ke arah Yuzuru dan Arisa. “Kalau begitu masuklah.” “Ah.” “Y-Ya.” Mengikuti jejak Hijiri, Yuzuru dan Arisa juga memasuki rumahnya. Begitu masuk, perbedaan besar antara kediaman Takasegawa dan kediaman Ryozenji menjadi jelas. Jumlah orang yang tinggal di rumah berbeda. Kediaman Takasegawa hanya memiliki keluarga Takasegawa dan sejumlah pelayan yang minimum. Di sisi lain, ada banyak orang – dan mereka bukanlah orang yang ramah – bekerja di kediaman Ryozenji. “… Ini cukup otentik, kan?” Arisa mengeluarkan perasaan yang tak terlukiskan. Yuzuru meraih tangan Arisa dan menggenggamnya erat. Setelah berjalan di sekitar rumah sebentar, Hijiri membuka salah satu pintu geser. Itu adalah ruangan bergaya Jepang yang terlihat bergengsi. “Ini kamar tamu. Tolong anggap dirimu seperti dirumahmu sendiri.” Saat mereka diberitahu seperti itu, Yuzuru dan Arisa memasuki ruangan dan duduk di atas bantal. Hijiri duduk menghadap mereka. Setelah beberapa saat, seorang pria berpakaian hitam membawakan mereka teh dan manisan Jepang. Sementara Yuzuru mengambil cangkir teh dan meminum tehnya seperti biasa, Arisa menyesap tehnya dengan ragu-ragu. “Sudah berapa lama sejak Yuzuru datang kesini?” “Hmm….. sejak SD, kurasa” Setelah dia menjadi siswa SMP, Yuzuru tidak lagi pergi ke rumah teman-temannya untuk bermain. Karena dia lebih banyak menghabiskan waktu bermain game atau belajar di cafe atau restoran keluarga….

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 08 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 08 Bahasa Indonesia

Pertama, Yuzuru meraih tangan Arisa dan mencium punggung tangannya. Lagi lagi, tubuh Arisa gemetar karena gugup. “Apa Kau menyukainya?” “Y-ya…” Arisa sedikit menggeliat. Jelas terlihat, bahwa Arisa lebih suka dicium di punggung tangannya. Mungkin dia benar-benar kehilangan kekuatannya. Arisa memberikan seluruh tubuhnya di tangan Yuzuru. Sambil menopangnya, Yuzuru dengan lembut membelai rambutnya yang indah. Rambutnya yang halus berkilau di bawah sinar matahari. Itu murni, misterius, dan bahkan suci, dan itu lewat dengan mulus ketika Yuzuru membelainya. Yuzuru mengambil segenggam rambut Arisa dan dengan lembut meletakkan hidungnya di sana. Dan mengendusnya. Aroma lembut sampo dan kondisioner menembus hidungnya. “Yu-Yuzuru-san….?” “Bagaimana dengan ini?” Yuzuru berbisik pelan di telinganya. Dia menempelkan bibirnya ke rambut murni Arisa. Dengan lembut, Yuzuru mengambil rambutnya di antara bibir dan sedikit ke mulutnya. “Ah ah…” Napas panas keluar dari bibir Arisa yang mengilap. Ketika Yuzuru dengan lembut meraih tangannya, Arisa meremasnya kembali dengan erat. Arisa meraih pakaian Yuzuru dengan salah satu tangannya seolah-olah berpegangan padanya. Yuzuru, di sisi lain, menggerakkan jarinya di rambut Arisa dan menariknya lebih dekat padanya. Hal berikutnya yang dia tahu, Arisa membenamkan wajahnya di dada Yuzuru, dan memeluknya dari depan. “Aku mencintaimu.” “…Aku juga.” Perlahan, secara alami, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah. Yuzuru menjatuhkan bibirnya dari rambut Arisa ke telinganya. Arisa memeluk Yuzuru dengan erat seolah-olah dia menempel padanya. Kemudian, dia mencium pipi Arisa yang gemetar. “Yu-Yuzuru-san….” Dengan sedikit kemerahan di matanya, Arisa menatap Yuzuru. Kemudian Arisa pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke wajah Yuzuru. Bibirnya mengkilap dan lembab. Dia menekan bibirnya dengan ringan ke pipi Yuzuru. Mata biru dan mata hijau mereka bertatapan. Yuzuru mendekatkan bibirnya sendiri ke bibir Arisa, dan…. “Yu-Yuzuru-san….” Dia berhenti bergerak ketika Arisa mendorong dadanya. Ketika Yuzuru sadar kembali, wajah Arisa menjadi merah dan dia sedikit gemetar. “….Apa kau tidak menyukainya?” Yuzuru bertanya, dan Arisa menggelengkan kepalanya. “T-Tidak… Bukan itu masalahnya…. tapi…” Arisa memalingkan wajahnya dari Yuzuru. Dia kemudian dengan hati-hati melihat sekelilingnya. “Um, ini…. kita di luar….” “Eh? A-ah…..” Yuzuru menggaruk pipinya saat mendengar itu. Dia benar-benar lupa bahwa ini adalah tempat umum. Ketika Yuzuru melihat sekeliling, beberapa orang memalingkan wajahnya. Sepertinya mereka telah melihat aksi keduanya. “Maaf soal itu.” “T-tidak…. Bahkan aku melupakan fakta itu di tengah-tengah.” Telinga Arisa telah berubah menjadi merah cerah. Tampaknya aksi Yuzuru tidak tidak membuat arisa tidak senang, hanya saja fakta bahwa ini adalah taman, di luar ruangan, dan di tempat umum membuat Arisa sedikit tidak nyaman. Setidaknya, Arisa bersedia melakukannya sampai menit…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 07 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 07 Bahasa Indonesia

Hari Minggu setelah upacara pembukaan. Yuzuru di stasiun, mengenakan pakaian kasualnya yang relatif nyaman. Saat dia sibuk memeriksa arlojinya…. “Yuzuru-san.” “Wah!” Tiba-tiba, bahunya dicengkeram. Yuzuru berteriak kaget dan berbalik. Ada tunangannya dengan ekspresi “Ehehe” yang lucu di wajahnya. “Jangan mengagetkanku. Kau membuatku takut.” “Ini salah Yuzuru-san karena lengah.” Arisa, seperti Yuzuru, mengenakan pakaian yang sedikit lebih dinamis. Dia mengenakan celana jeans dengan kardigan dan kemeja di bawahnya. Di jari manis tangan kirinya bersinar cincin lamaran yang telah Yuzuru masukkan ke dalam hatinya. Ketika dia datang ke sekolah, dia tidak memakai cincin itu. ….Tentu saja, mengenakan cincin pertunangan yang mahal ke sekolah terdapat masalah keamanan, dan yang lebih penting, itu akan menyebabkan keributan ‘Siapa yang memberikannya padamu?’. Sudah menjadi fakta yang terkenal bahwa Yuzuru dan Arisa adalah sepasang kekasih, tetapi fakta bahwa mereka bertunangan adalah cerita yang sama sekali berbeda. Tidak ada yang lebih baik selain menyembunyikannya. “Begitu…. kurasa itu salahku yang menunjukkan celah.” Tiba-tiba, merasa sedikit nakal, Yuzuru dengan lembut mengambil tangan kiri Arisa di tangannya. Arisa memberikan tangannya dalam gerakan alami seolah-olah dia berpikir Yuzuru hanya akan memegang tangannya seperti biasa. … Itu ceroboh. Yuzuru meraih tangan Arisa, lalu perlahan mengangkatnya. Eh? Bukankah kita akan berkencan sekarang, berpegangan tangan? Dia tersenyum ringan pada ekspresi di wajah Arisa dan…… “Ah…..” Dengan lembut, dia menekan bibirnya ke punggung tangannya. Tubuh Arisa sedikit menggigil. Kulit porselen putihnya berubah sedikit merah. Yuzuru tidak peduli dan dengan lembut menjatuhkan ciuman kedua di jari manisnya. “M N….” Arisa mengeluarkan jeritan kecil. Kemudian dia kehilangan kekuatannya dan jatuh ke arah Yuzuru seolah-olah ambruk. “Apa Kau baik-baik saja?” “H-hal semacam ini….. Tolong berhenti melakukan ini di depan orang….” Ketika Yuzuru memeluknya, Arisa mengeluh padanya dengan mata basah. Meskipun Arisa memintanya untuk berhenti, bukan berarti Arisa tidak senang. Bahkan, di matanya, sepertinya Arisa ingin Yuzuru melakukannya lagi dan lagi. “Itu salahmu yang menunjukkan celah, kan?” Yuzuru tersenyum jahat. Arisa kemudian menggembungkan pipinya sedikit dan memukul dada Yuzuru. “Astaga…. jahat.” Arisa mengatakan ini dengan ekspresi lega, tapi agak tidak puas di wajahnya. Mereka berdua kemudian menuju ke sebuah taman di dekat stasiun. Taman itu cukup besar, dengan bunga sakura yang indah bermekaran. Ya, tanggal ini adalah waktu yang tepat untuk melihat bunga sakura yang sudah lama ditunggu-tunggu keduanya. “Lalu kemana kita harus pergi?” “Mmmmm…. kurasa itu tempat yang bagus.” Untungnya, ada satu tempat yang terlihat bagus. Yuzuru membentangkan alas yang dia bawa bersamanya di tempat itu. Dia bertanggung jawab…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 06 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 06 Bahasa Indonesia

“Hei, hei, Yuzurun, Arisa-chan…. Yuzurun, apa kau terbakar sinar matahari?” “Semacam itu.” Yuzuru menjawab dengan ringan dan mengeluarkan suvenir dari kantong kertas. “Ini.” “Terima kasih… Hmm. Cokelat kacang macadamia. sedikit sederhana.” “Aku berharap Kau bisa mengatakan itu adalah pilihan yang aman.” Yuzuru kemudian membagikan sekotak coklat kepada teman-temannya yang sudah berada di sekolah – Chiharu, Soichiro, Hijiri, dan Tenka. Akhirnya, dia menyerahkan kotak itu kepada Arisa. “Ini, Arisa.” “Terima kasih banyak” Arisa dengan senang hati menerima sekotak coklat. ….Yuzuru sedikit mengalihkan pandangannya ketika dia melihat payudaranya, yang sedikit berubah bentuk karena ditekan ke kotak. “Tapi kacang macadamia ya … Ini agak tumpang tindih.” Mengatakan ini, Soichiro berdiri dan mengeluarkan sebuah kotak dari kantong kertas yang dibawanya. Dia kemudian menyerahkannya kepada Yuzuru dan Arisa. “Terima kasih…. Apa Kau ke Hawaii lagi tahun ini?” “Ya.” Keluarga Satake pergi ke Hawaii setiap musim semi. …..Keluarganya memiliki anak yang cukup untuk membuat satu tim bisbol. Pastinya akan menjadi perjalanan yang meriah. “Dan sekarang untuk Yukishiro-san.” “Ya terima kasih banyak.” Selanjutnya, Soichiro menyerahkan kotak itu kepada Arisa. Saat dia berterima kasih padanya … Soichiro menatap Arisa. “Ada yang salah?” Arisa memiringkan kepalanya dengan bingung. Kemudian Soichiro bertanya padanya. “Bisakah aku memanggilmu Arisa-san mulai sekarang?” “Tentu, aku tidak terlalu keberatan, tapi….” Arisa memberinya tatapan ‘Apa yang terjadi tiba-tiba?’. “Tidak, maksudku… Yukishiro-san akan menjadi Takasegawa-san kan?” Untuk sesaat, Arisa sepertinya tidak mengerti kata-kata Soichiro. Namun, setelah beberapa saat tertunda, wajahnya menjadi merah. “I-itu….” “Karena cara menyapamu akan berubah di masa depan, kupikir sebaiknya aku melakukannya sekarang….. Bagaimana menurutmu?” “Dengan segala cara! Tolong lakukan itu!!!” Arisa berkata dengan penuh semangat, menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kemudian, dalam bisikan, dia bergumam, “Arisa Takasegawa…. Arisa Takasegawa….” dan menyeringai. Yuzuru menatap Arisa seperti itu dengan perasaan halus yang tak terlukiskan. ….Tunangannya telah berubah menjadi anak yang menyedihkan “Hm, *ehem… aku juga punya suvenir untukmu.” Ayaka terbatuk dan mengeluarkan benda seperti boneka dari kantong kertas dan menyerahkannya kepada Yuzuru. “….Apa ini?” “Matryoshka. Ini adalah suvenir khas Rusia. Apa Kau tidak tahu apa-apa tentang itu?” (TN: Matryoshka: Semacam boneka.) “Bukan itu….. Matryoshka macam apa ini?” “Seperti yang Kau lihat, itu adalah Presiden Putin”. Ternyata, wajah Matryoshka tidak berbeda dengan penampilan Putin. Dan karena itu adalah matryoshka, pasti ada boneka lain di dalamnya. “Yeltsin, Gorbachev, Brezhnev, Khrushchev, Stalin, Lenin…. begitu.” Apa itu mainan yang menyenangkan? Entah itu hanya mainan yang menyenangkan atau lelucon Rusia tentang bagaimana bagian luarnya berubah tetapi bagian dalamnya tetap sama, Yuzuru…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 05 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 05 Bahasa Indonesia

Beberapa hari kemudian. Hari pertama sekolah setelah liburan musim semi. “Selamat pagi, Yuzuru-san.” “Selamat pagi, Arisa.” Arisa datang untuk menjemput Yuzuru dari apartemennya. “Yuzuru-san…. kau terlihat agak kecokelatan.” Ini adalah pertama kalinya Yuzuru dan Arisa bertemu satu sama lain setelah liburan. Dia mengirim beberapa foto ke Arisa, tapi sepertinya foto dan aslinya terlihat sedikit berbeda. “Yah…. aku berada di negara tropis.” Ketika mengatakan bahwa dia kecokelatan, hanya ada sedikit perubahan yang bisa diperhatikan. Itu tidak berarti bahwa dia menjadi benar-benar gelap. “Benda yang Kau pegang di tanganmu, mungkinkah …” “Ah, itu suvenir. Aku akan memberikannya ketika Aku sampai di sekolah. Aku akan memberikannya kepadamu juga.” Yuzuru kemudian dengan ringan mengangkat kantong kertas di tangannya. Itu adalah suvenir dari New Caledonia. Selain itu, keluarga Takasegawa mengirimkan semua suvenir mereka melalui pos kepada orang-orang yang telah menjadi bagian dari hidup mereka. Yang Yuzuru bawa adalah suvenir pribadi untuk Ayaka dan yang lainnya. Dan Lagi…. Yuzuru tersenyum pada Arisa. “Senang bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu.” Ketika Yuzuru mengatakan ini, pipi Arisa sedikit memerah dan dia dengan ringan memukul dada Yuzuru. “Ya ampun!” “…..Apa itu tidak seperti itu untukmu?” Yuzuru bertanya pada Arisa yang malu. Kemudian, Arisa menjawab dengan matanya yang sedikit tertunduk. “Itu…. Y-yah….” Kemudian, dia samar-samar menggumamkan kata-katanya. Untuk Arisa yang bersikap seperti itu, Yuzuru merentangkan tangannya lebar-lebar. “Apa tidak apa-apa jika aku memelukmu?” Mata hijau giok Arisa menatap mata Yuzuru. Kulitnya yang putih menjadi kemerahan. Kemudian dia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang di sekitar dan…. “Yuzuru-san…..” Dia melompat ke dada Yuzuru. Yuzuru memeluk tunangannya erat-erat dengan kedua tangannya. Rambut kuning muda indahnya sedikit menggelitik ujung hidung Yuzuru. Aroma sampo yang samar melayang ke udara. Tubuh tunangannya sangat lembut dan panas. “….Aku kesepian tanpamu.” “Maaf soal itu.” Mereka tidak bertemu selama beberapa minggu, namun mereka bersatu kembali seolah-olah mereka telah berpisah selama beberapa dekade. “Mulai hari ini kita kelas dua, kan?” “Betul sekali.” Mereka berpegangan tangan saat berjalan ke sekolah, melakukan percakapan normal. “Aku harap kita bisa berada di kelas yang sama.” “Itu benar … kalau dipikir-pikir, akan ada pergantian kelas.” Ketika Arisa memberitahunya, Yuzuru tiba-tiba sadar. Pada tahun kedua, kelas akan benar-benar berubah. Jika itu terjadi, ada kemungkinan besar bahwa Yuzuru dan Arisa akan berada di kelas yang berbeda. “Kau lupa?” “Tidak, yah… kurasa jawaban yang benar adalah aku tidak benar-benar menyadarinya. Aku menjadi sedikit gugup.” Tapi hanya karena mereka berada di kelas yang berbeda bukan berarti mereka akan…

Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 04 Bahasa Indonesia
Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 04 Bahasa Indonesia

“Kenapa Kau tidak kembali ke kamarmu? ….Ini sudah malam.” Yuzuru tersenyum pada adiknya, Ayumi, yang sedang bersantai di kamarnya. Ada tiga kamar yang disewa keluarga Takasegawa di hotel. Satu kamar disediakan untuk Kazuya dan Sayori, dan dua kamar lainnya masing-masing disediakan untuk Yuzuru dan Ayumi. Namun, Ayumi menetap di kamar Yuzuru sepanjang waktu meskipun dia memiliki kamarnya sendiri. Aku bosan, tetapi Aku tidak ingin membuang waktu untuk bermain game di ponselku ketika Aku sedang berlibur. Itu adalah alasan Ayumi. Yuzuru bisa memahami perasaannya, jadi dia bermain catur, shogi, poker, mahjong, dan permainan lainnya. Orang tua mereka, Kazuya dan Sayori, sedang bermain di kasino, meninggalkan kedua anak mereka sendirian. Yuzuru dan Ayumi ingin mengikuti mereka ke kasino, tetapi hukum tidak mengizinkan mereka melakukannya…. “Yah.” “Ini bukan ‘Yah’…. Aku tidak tahu Apa Kau bisa bangun besok pagi, oke?” Tidak apa-apa bagimu untuk bermalas-malasan di rumah. Tapi sayang untuk membuang waktu berharga ketika liburan. “Dan aku juga mulai mengantuk.” “Baiklah, mari kita 1 ronde lagi! Ayo mainkan satu game lagi!” Ayumi sibuk dengan block mahjong di tangannya. Untuk saat ini, Yuzuru memenangkan permainan. Namun, karena tidak ada uang yang dipertaruhkan kali ini, tidak ada banyak arti penting dalam kemenangan itu. “Itulah yang Kau katakan sebelumnya …” Sambil menghela nafas, Yuzuru, yang memiliki kelemahan pada adiknya, mengambil sebuah block dan berkata, “Aku akan ikut denganmu hanya untuk satu permainan lagi…..” Pada saat yang sama, ponsel Yuzuru berdering. “Ah…. Maaf Ayumi.” Ketika Yuzuru melihat layar ponselnya dan mengatakan itu, mulut Ayumi melengkung menjadi cemberut kecil. “Mu….. Yah, baiklah. Aku tidak ingin mengganggumu. Selamat malam!” “Ya, selamat malam.” Ayumi akhirnya meninggalkan ruangan, rupanya dia kira yang menelepon adalah Arisa. Setelah memastikan bahwa Ayumi telah meninggalkan ruangan, Yuzuru menjawab telepon. [“Алло!”] (TN: Halo dalam bahasa Rusia) “Bahasa Jepang, tolong.” [“Kau sedang dalam suasana hati yang buruk, Yuzurun.”] Orang di ujung telepon itu bukan Arisa…. Tapi teman masa kecilnya Ayaka Tachibana. [“Apa aku membangunkanmu secara kebetulan?”] “Aku baru saja akan tidur. Aku agak berterima kasih kepadamu karena mengeluarkan Ayumi dari kamarku, jadi terima kasih. Bagaimana denganmu….?” [“Aku baru saja makan malam.”] Perbedaan waktu antara Yuzuru dan Ayaka tepat delapan jam. “Aku melihat gambar-gambar itu. Apa yang bisa kukatakan, itu terlihat…. keren.” Yuzuru berkata, menggambarkan kesannya tentang Danau Baikal yang dikirim oleh Ayaka kepadanya. Bagaimana dia bisa pergi ke Rusia pada waktu seperti ini, Yuzuru bertanya-tanya dalam hati. [“Nah, itu dia! Sekarang minus lima derajat!”] “Itu membuatku iri. Di…