I’m The Only Multilingual Master a Russian Transfer Girl Student Who Can’t Speak Japanese Can Rely On Chapter 27 Bahasa Indonesia

Now you are reading I’m The Only Multilingual Master a Russian Transfer Girl Student Who Can’t Speak Japanese Can Rely On Bahasa Indonesia Chapter Ch.27 at Kuma Translator.

Tidak ada yang istimewa, hanya kehidupan sehari-hari

 

Besok hari sabtu.

Kegembiraan pertandingan kelas telah mereda, dan ini adalah hari libur biasa.

Kudengar bahwa rekomendasi olahraga Sawai telah dibatalkan karena beberapa gadis yang telah dimainkannya sebelumnya mengeluh kepada guru.

Yeaah!!

Cheena sekarang berbaring di tempat tidur di kamarku, membaca manga.

Tapi dia tidak bisa membacanya dengan lancar, jadi dia sering bertanya padaku apa yang dia baca dan apa artinya, sembari duduk di sampingku.

“Hei, Yori, bagaimana Kau membaca ini?”

“Hmm? Itu ‘Tidak ada kelinci?!’ Kurasa. Kelinci itu [Кролик].”

(TN: Кролик krolik adalah kata Rusia untuk kelinci)

Dia sekarang menghabiskan waktunya sambil belajar bahasa Jepang. Apa yang dia baca sekarang adalah manga dengan banyak hiragana sehingga relatif mudah dibaca.

Sedangkan Aku, Aku duduk di tepi tempat tidur sambil belajar bahasa Spanyol.

Dengan senang hati Aku menambah jumlah bahasa yang dapat kugunakan.

Aku sibuk dengan Cheena dan Angie akhir-akhir ini, jadi Aku ingin belajar ketika Aku bisa.

Berbicara tentang belajar, tes reguler terakhir.

Shiori masih menduduki peringkat pertama di kelasnya.

Aku selalu mendapat nilai sempurna dalam mata pelajaran verbal juga, tetapi mata pelajaran sains adalah dimana aku tertinggal.

Mungkin aku bisa sedikit meningkatkan nilaiku jika aku melakukan hobi belajar seperti ini.

Mungkin Aku harus mencobanya kapan-kapan.

Saat ini, Angie sedang bekerja untuk militer mengurus berbagai prosedur.

Dia akan melakukan perjalanan bisnis lagi besok, jadi dia harus melalui semua formalitas dan konfirmasi.

Sudah lama aku tidak berduaan dengan Cheena di kamarku, sejak kami bertiga sering berkumpul di kamar Angie akhir-akhir ini.

Ketika Aku melihat ke belakangku, Aku melihat bahwa Cheena sedang berbaring telentang dengan kemejanya sedikit ditarik ke atas, memberiku pemandangan sekilas dari perutnya yang mungil.

Hampir saja! Aku buru-buru memalingkan wajahku.

Itu berbahaya. Aku tahu Aku lengah akhir-akhir ini, tetapi berada di ruangan yang sama dengan seorang gadis cukup berbahaya, bukan?

Aku berbicara dengan Cheena untuk mendapatkan kembali ketenanganku sementara Aku juga sibuk menekan jantungku yang berdebar kencang.

“Ngomong-ngomong, Cheena. Angie bertanya-tanya apa Kau ingin memanggilnya Ibu.”

“Eh, Ibu?”

Dia berhenti membolak-balik halaman dan mengesampingkan manga yang dia baca.

“Aku yakin sulit bagimu untuk memilah perasaanmu, tapi Angie selalu menginginkan anak.”

Sangat manis bagiku untuk melanjutkan percakapan sambil memastikan untuk menambahkan kata-kata yang dapat meyakinkannya dan tidak membuat keputusan terburu-buru.

Kau berhutang kepadaku Angie!

“Maksudku, aku setuju dengan itu semua, tapi aku sudah memilih ‘Angie’…”

“Oh, Kau benar.”

Aku menutup buku referensiku dan kemudian menoleh padanya … untuk melihat pusarnya…..tidak mungkin!

Aku juga berpikir itu normal baginya untuk tidak setuju dengan begitu mudah. Dia belum bisa melupakan orang tuanya sehingga pasti secara fisiologis sulit baginya untuk memanggil Angie dengan Ibu.

“Ngomong-ngomong, Angie bilang dia ingin punya bayi…..”.

Kali ini, Cheena mengajukan pertanyaan yang terdengar sangat sulit untuk didengar.

Hmm? Aku ingin tahu apa yang terjadi.

“Bukankah Angie ingin memiliki Yori sebagai anaknya ketika ayahmu meninggal?”

“Oh ya…”

Aku terkejut. Sejujurnya Aku pikir itu yang terjadi sebelumnya, tetapi untuk Cheena, Aku memiliki keberanian untuk mendengar hal itu darinya. Aku tidak bisa menatap langsung ke matanya jadi… Aku hanya bisa menunjukkan padanya ketulusanku melalui auraku.

“Dia bertanya kepadaku. ‘Maukah Kau menjadi anakku?’ Tapi aku menolaknya.”

“Apa? Mengapa?”

Cheena duduk karena terkejut.

Kali ini, aku menatap matanya dan berbicara dengan sedikit senyuman.

“Aku sudah memberitahumu sebelumnya. Aku bilang aku punya sesuatu dalam pikiranki. Aku masih mempersiapkannya. Aku hampir siap untuk itu, dan itu…..”

“Dan?”

“Jika Aku tidak mengatakan tidak pada saat itu, Cheena tidak akan datang ke sini, Aku tidak menyesal.”

Aku kemudian meletakkan tanganku di kepala Cheena.

“Aku mengerti.”

Cheena berkata itu dan meletakkan tangannya di tanganku.

Gelang pasangan kamu saling bersentuhan dan membuat suara klik.

Jantungku berhenti berdetak.

Kami saling menatap sejenak, dan kemudian aku tiba-tiba merasa malu dan membuang mukaku.

Cheena melakukan hal yang sama dan buru-buru menarik tangannya.

“Aku sangat lapar. Ayo pergi makan siang.”

“Oh, i-itu benar, y-ya aku juga kelaparan.”

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *