Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 3 Chapter 15 Bahasa Indonesia

Now you are reading Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Bahasa Indonesia Chapter Vol.3 Ch.15 at Kuma Translator.

Hari saat event maraton.

Marathon tidak dimulai di sekolah, tetapi di stadion track dan lapangan yang sedikit jauh.

Dari sana, jalurnya adalah menyusuri sungai, mengitari perimeter, dan kemudian kembali ke track.

Pagi-pagi sekali, Yuzuru, bersama Arisa, Soichiro, Ayaka, dan yang lainnya sedang meletakkan tikar di rumput di tepi luar stadion dan mengobrol.

“Aku dengar anak perempuan lari duluan, baru anak laki-laki.”

Itu Ayaka yang mengatakan ini dengan suara yang cerah.

Dia pandai berolahraga, jadi maraton tidak akan terlalu sulit baginya.

“Karena cepat selesai, jadi mungkin jam sekolah hanya akan setengah hari! Mengapa kita tidak keluar dan bermain sesudahnya?”

Chiharu berkata dengan suara ceria.

Dia juga tidak menolak untuk berolahraga, jadi dia tampaknya tidak menganggap maraton terlalu menyusahkan.

“Kau bisa bermain sesukamu, tapi bukan aku… Biarkan aku istirahat.”

Soichiro berkata sambil menghela nafas.

Dia terjepit di antara Ayaka dan Chiharu, dan mereka mengganggunya untuk bermain dengan mereka.

Beberapa anak laki-laki menatap Soichiro dengan tatapan dendam.

Tapi Yuzuru, teman masa kecilnya, tahu bahwa butuh banyak energi dan stamina untuk bermain dengan Ayaka dan Chiharu, yang sama-sama sangat bersemangat.

Jadi dia tidak merasa begitu iri.

Sebenarnya, dia merasa kasihan padanya.

Yah bagaimanapun, itu menegaskan kembali bahwa pria ‘two-timing’ ini adalah seorang b******n.

“Tujuh kilometer bukanlah jarak yang dekat dan kau pasti harus mengistirahatkan tubuhmu, kan? …Kurasa itulah maksud di balik tidak ada kelas di sore hari.”

Arisa berkata dengan senyum masam.

Kemudian Soichiro mencela baik Ayaka maupun Chiharu, “Dengar, Yukishiro-san juga bilang begitu”.

“Berbicara tentang istirahat, Arisa. ….Apakah tubuhmu baik-baik saja?”

Yuzuru bertanya pada Arisa.

Sudah lebih dari seminggu sejak demamnya nya sembuh total.

Jadi, kondisi fisiknya seharusnya tidak buruk sama sekali.

Namun, apa dia dalam kondisi untuk berlari jarak jauh atau tidak adalah cerita yang berbeda.

Kekuatan fisiknya pasti sedikit rendah.

“Ya, Aku merasa baik-baik saja…. Terima kasih Yuzuru-san.”

Arisa sedikit tersipu.

Yuzuru ingat saat dia merawatnya.

Kulit putih Arisa … sangat mengkilap.

“A-ah, begitu…. senang mendengarnya.”

Sedikit kecanggungan mengalir di antara Yuzuru dan Arisa.

‘Oh, pasti ada sesuatu yang terjadi’

Yang lain memberi mereka pandangan hangat memikirkan itu.

“Mo~, cukup tentangku…. Tenka-san…. Apa Kau akan baik-baik saja?”

Arisa mengalihkan topik dengan mengorbankan Tenka.

Dan kulit Tenka, yang dijadikan kambing hitam … tidak terlalu bagus.

“Apa Kau baik-baik saja?”

“.. Secara fisik, yah, aku baik-baik saja.”

Tenka menjawab pertanyaan Hijiri.

Lalu dia menghela nafas.

“Aku sedang dalam suasana hati yang buruk… Aku ingin bertanya pada kalian semua, apa tidak apa-apa?”

Ketika Yuzuru dan yang lainnya mengangguk, Tenka mulai berkata.

“Tolong…. jangan bersorak untukku. Aku tidak ingin Kau menyambutku atau bertepuk tangan untukku di garis finis.”

Omong-omong, ada budaya bertepuk tangan untuk yang menempati posisi terakhir, Yuzuru ingat begitu.

Apa alasannya? Yuzuru bertanya-tanya sambil memiringkan kepalanya.

Untuk seseorang yang terakhir, itu akan membuat mereka lebih menonjol, jadi itu akan menjadi penghinaan.

Meskipun Yuzuru tidak pernah menjadi korban, entah bagaimana dia bisa membayangkan seperti apa rasanya.

Karena Yuzuru bisa membayangkannya, orang biasa lainnya juga bisa membayangkannya.

Namun, tentu saja, beberapa orang berani bertepuk tangan untuk mempermalukan mereka … tetapi tidak semuanya.

(…Yah, mungkin alasan orang bersorak untuk orang terakhir adalah karena jika tidak, sepertinya mereka tidak berperasaan.)

Agak canggung untuk menyapa orang terakhir dalam antrean tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena Kau merasa kasihan pada mereka.

Karena itu, mereka mungkin bertepuk tangan untuk kenyamanan mereka sendiri.

Selain orang yang disambut, itu membuat orang yang menyapa orang lain merasa lebih baik.

“Haruskah Aku menyemangatimu melalui pengeras suara?”

“Aku tidak terlalu keberatan, tapi aku akan mengutukmu, oke?”

Tenka memelototi Hijiri, yang mengolok-oloknya.

Dia pewaris organisasi keagamaan, jadi kutukannya mungkin bisa benar-benar berhasil.

“Ngomong-ngomong, Yuzuru. Apa Kau mengingat janjimu?”

“Jangan bilang Kau lupa?”

Saat dia ditanya oleh Soichiro dan Hijiri….. Yuzuru memiringkan kepalanya.

Dia ingat bahwa dia telah berjanji untuk memijat Arisa sesudahnya, tetapi dia tidak ingat berjanji untuk memijat dengan Soichiro dan Hijiri, yang mana akan sangat tidak menyenangkan.

“Ah…. tentang makanan”

Tapi kemudian Yuzuru langsung teringat.

Orang terakhir dalam maraton di antara mereka akan memntraktir makanan untuk kedua pemenang.

“Tentu saja aku ingat. Aku tak sabar untuk itu.”

Yuzuru juga percaya diri dengan kekuatan fisiknya.

Selama dia akan bersaing, dia tidak punya niat untuk kalah.

Dia juga ingin memenangkan permainan dan menghabiskan waktu bersama Arisa dalam suasana hati yang nyaman dan segar.

Jadi dia pasti akan menang.

“Ho~….”

“Sekarang Kau mengatakannya”

Namun, sepertinya Soichiro dan Hijiri juga tidak punya niat untuk kalah.

Tenka menghela nafas sedikit berlebihan saat mereka bertiga bertukar aura permusuhan dengan mata mereka…

“Bagus, kedengarannya sangat menyenangkan…. Aku ingin tahu apa ada semacam trik untuk mempermudahku?”

Chiharu membalas renungan Tenka.

“Aku bernafas seperti ‘hehefu’, kau tahu. Itu membuatku merasa lebih baik.”
(TN: hehefu adalah bagian dari teknik pernapasan Lamaze yang digunakan saat melahirkan.)

“….Itu untuk melahirkan, kan? Apa ada pengaruhnya?”

Apa metode Lamaze berguna untuk lari ketahanan menjadi sedikit pertanyaan.

Chiharu menjawab keraguan Arisa.

“Siapa tahu? Tetapi jika itu membuat persalinan lebih mudah, bukankah itu cukup untuk lari ketahanan?”

“Chiharu-san… aku akan mempercayaimu, oke?”

Tenka ingin mempercayai kata-kata Chiharu yang mana tidak dapat diketahui kebenarannya.

Meskipun Yuzuru berpikir dia sebaiknya tidak … Chiharu dengan percaya diri melenturkan payudaranya yang besar dan kemudian menjulurkan ibu jarinya.

“Silakan merasa nyaman karena Kau berada di kapal besar. Aku seorang setengah dewa-manusia, Kau tahu?”

“Seperti mengatakan Dewa, Buddha, dan Chiharu-sama, kan?.”

Ayaka tertawa dan berkata.

Setidaknya Ayaka tidak berniat mempercayai apa yang dikatakan ‘Dewa Chiharu’.

Dan sementara itu terjadi, sinyal untuk berkumpul diberikan.

Setiap kelas akan berkumpul dan melakukan pemanasan secara keseluruhan, dan kemudian …… acara akan dimulai, dibagi menjadi pria dan wanita.

Yuzuru dan Arisa berjalan ke teman sekelas mereka, berdampingan.

… Wajar bagi Yuzuru dan Arisa, yang telah bersama Ayaka dan yang lainnya sebelumnya, untuk berjalan bersama ke teman sekelas mereka.

Tentu saja, orang-orang di sekitar mereka dapat melihat bahwa hubungan mereka berkembang….

Ini adalah “persiapan” penting bagi mereka berdua.

“… Yuzuru-san.”

“Ada apa?”

“Kau ingat apa yang terjadi setelahnya, kan?”

Setelah ini,

Setelah maraton selesai.

Yuzuru mengangguk dengan penuh semangat.

“Tentu saja… Jadi mari kita lakukan yang terbaik”

“…Ya.”

Mereka berdua tersenyum bersamaan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *