Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Vol 4 Chapter 10 Bahasa Indonesia

Now you are reading Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite Bahasa Indonesia Chapter Vol.04 Ch.10 at Kuma Translator.

Disaat mengobrol ringan sembari meminum teh

Pengunjung lain membuka pintu geser dan masuk ke ruangan.

“Sudah lama. Yuzuru-dono.”

Dia adalah seorang pria tua kecil dengan janggut putih di dagunya.

Dia mengenakan kimono dan menggunakan tongkat untuk membantu dirinya beridiri.

Hanya saja matanya memiliki tatapan yang sangat tajam.

Kiyoshi Ryozenji

Dia adalah presiden saat ini dari sebuah organisasi bernama Ryozenji.

“Ryozenji-san, sudah lama sekali.”

Dia menggelengkan kepalanya saat Yuzuru mencoba berdiri, merasa tidak enak karena membuat lelaki tua dengan kaki yang buruk itu berdiri karenanya.

“Tidak, tidak apa-apa. Tolong tetap duduk. ”

Dia duduk di atas bantal dengan bunyi *Buk, dengan bantuan Hijiri, yang bergegas ke sisi Kiyoshi.

Dia kemudian mengalihkan tatapannya ke Arisa.

Arisa menegakkan punggungnya.

“Senang bertemu dengan Anda. Saya Arisa Yukishiro, teman sekelas Hijiri-kun. Terima kasih telah menerima Saya di sini hari ini.”

“Hmmm…. Arisa Yukishiro. Begitu, Kau adalah tunangan Yuzuru-dono.”

“Ah iya. Itu benar…. Saya tunangan Yuzuru-san.”

Pipi Arisa sedikit memerah saat dia mengatakan ini, terlihat malu.

Melihat gerakan Arisa, Kiyoshi tersenyum kecil.

“Hahaha, dia wanita muda yang cantik, Yuzuru-dono.”

“Ya. Dia terlalu baik untukku.”

Sambil mengatakan itu Yuzuru meremas tangan Arisa.

Di sisi lain, Arisa mengangkat suaranya dalam kebingungan, dan berkata, “H-hei …”.

Mata Kiyoshi terlihat bahagia saat melihat tingkah keduanya.

“Bagus, bagus….. Tidak, tapi aku iri pada si lelaki tua Takasegawa. Aku selalu berharap cucu-cucuku dapat segera memiliki satu atau dua pacar untuk membuatku merasa tenang.”

“Memiliki dua akan menjadi masalah kan …”

Kata-kata Kiyoshi disambut dengan cibiran tenang dari Hijiri.

Kiyoshi mengabaikan cucunya dan mengalihkan pandangannya ke Arisa sekali lagi.

“Mempertimbangkan masa depan Nyonya Takasegawa, seharusnya aku yang akan menyapanya lain kali…. Mungkin untuk Tahun Baru, aku akan datang menyapamu.”

“T-tidak, itu …”

Arisa, di sisi lain, tampak sedikit bingung.

Dia jauh lebih tua dari Arisa.

Meskipun itu wajar, untuk kepala keluarga dan organisasi Ryozenji memiliki sikap hormat terhadapnya.

Dalam hal peringkat keluarga, Arisa mungkin lebih unggul, tetapi seorang senior di depannya tidak akan pernah berada dibawah Arisa.

(…Bagaimana Aku bisa menjawab ini dengan benar?)

Secara umum, Arisa adalah “peringkat bawah” dari keduanya, jadi Arisa harus menjadi orang yang hormat padanya.

Tapi….. Apa pandangan umum berlaku di sini?

(Aku…. tunangan Yuzuru-san, dan um…. Takasegawa berada di posisi yang lebih tinggi dari Ryozenji, dan bahkan jika aku berada di posisi yang lebih rendah, mungkin mempertimbangkan posisi Yuzuru-san….)

Dalam sekejap mata, kekhawatiran dan kecemasan seperti itu melintas di benaknya.

Tapi dia tidak bisa hanya duduk di sini dan tidak menjawabnya.

“Ya. Pada hari Tahun Baru…. Saya dan ayah Saya akan mengunjungi kediaman Takasegawa-san untuk menyambut Takasegawa-san. Saya harap kita bisa bertemu lagi saat itu.”

Ketika Arisa menjawab dengan suara yang jelas, Kiyoshi mengangguk kecil “Fumu”.

“….. Bagus. Aku menantikan saat itu.”

Ada sedikit kegembiraan dalam kata-katanya.

Yuzuru, di sisi lain, mengerutkan keningnya.

“Ryozenji-san…. aku akan sangat menghargainya jika Kau berhenti mencoba mengganggu tunangan orang.”

“Pak presiden …. kupikir itu agak kekanak-kanakan bagi seorang pria tua untuk mengerjai seorang gadis muda.”

Hijiri juga menyalahkan Kiyoshi dengan nada keras.

Kemudian Kiyoshi dengan sengaja menyentuh jenggotnya.

“Yah, apa maksudmu? aku tidak tahu apa yang Kau bicarakan …”

Dia memiringkan kepalanya dengan nada seperti tak bersalah.

Seperti yang diperkirakan, Arisa juga pasti akan sadar jika mereka sudah bersikap sejauh ini.

Itu adalah ujian.

Bahkan setelah sekian lama, jantung Arisa masih berpacu dengan cepat.

“Tidak, Aku minta maaf. Anak brandal dan cucuku yang lain berada di luar kota. Yah… tapi selama kita bisa bertemu di Tahun Baru, itu tidak akan menjadi masalah.”

Saat dia mengatakan ini untuk menutupi perilakunya yang sebelumnya, Kiyoshi menatap lurus ke arah Yuzuru.

“Tidak, tapi…. kurasa waktu memang berjalan sangat cepat. Sepertinya baru kemarin kami merayakan pernikahan Kazuya-dono dan Sayori-san dan sekarang Anaknya sudah punya tunangan … dan akan memiliki keluarga dalam beberapa tahun lagi. Itu artinya aku juga semakin tua ya.”

Dia mengatakan ini dengan nada nostalgia.

Tapi matanya berkilauan dan masih bersinar.

“Beberapa dekade terakhir berlalu sangat cepat. Banyak hal telah berubah dengan cepat. Untuk Ryozenji dan Takasegawa. Misalnya, tidak pernah terpikirkan olehku bahwa penerus Takasegawa dan Uenishi untuk belajar di sekolah yang sama.”

Dia bernostalgia dengan masa lalu.

Mengagumi perubahan waktu dan merasakan kesedihan.

“Tetapi beberapa hal tidak pernah berubah…. Ya, misalnya, persahabatan. Akhir dari uang adalah akhir dari sebuah hubungan. Itulah mengapa persahabatan yang kuat yang tidak dapat diubah dengan uang memiliki nilai. Tidakkah menurutmu begitu?”

Itu, anehnya, hal yang sama yang Kazuya katakan pada Yuzuru.

Tapi ini tidak mengejutkan.

Itu mungkin kata-kata yang sama yang dikatakan kakek buyut Yuzuru, dan kata-kata itu diturunkan dari generasi ke generasi di Takasegawa dan Ryozenji.

“Ya…. Itu juga yang ayahku katakan. Dan Aku juga berpikir begitu. Kuharap Aku dapat terus menjadi teman dengan Hijiri, Tidak, Hijiri-kun”

Kiyoshi mengangguk dengan puas atas jawaban Yuzuru.

“Oh, Kazuya-dono juga mengatakan hal yang sama. Indah sekali. Tidak peduli bagaimana hubungan antara Takasegawa dan Ryozenji dapat berubah di masa depan, Aku akan lega … jika cucuku dan Kau bisa tetap berteman untuk waktu yang lama.”

Tolong tetap berhubungan baik dengan Hijiri dan yang lainnya, dan tetaplah sebagai teman yang setara dan baik.

Yuzuru mengangguk pada permintaan Kiyoshi.

Dan setelah jeda singkat untuk berpikir, dia tersenyum lembut dengan suara tenang.

“Tentu saja. Ryozenji adalah sekutu Takasegawa. Itu tidak akan berubah di generasiku. Aku akan meneruskan wasiat kakek buyutku dengan tegas dan tidak akan berubah.”

Hubungan hierarkis antara Takasegawa dan Ryozenji tidak akan berubah di masa depan.

Yuzuru menyatakan dengan jelas hal itu.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *